KAMALA DAN NIKITA

Oleh: Trias Kuncahyono 

Nikita Mirzani. (Foto: Instagram)
Nikita Mirzani. (Foto: Instagram)
Trias Kuncahyono 
Trias Kuncahyono

SATU: Memang tidak sebanding: Kamala Devi Harris dan Nikita Mirzani. Tetapi, satu hal, keduanya adalah perempuan.

Perempuan yang berani mengambil risiko: apakah itu nekad atau dilandasi pertimbangan-pertimbangan yang rasional, itulah yang mereka ambil. Tentu, Kamala berani mengambil risiko dengan pertimbangan matang.

Kamala, wakil presiden terpilih AS, negara adikuasa. Ia perempuan yang sangat terpelajar— lulusan Universitas Howard di Washington, D.C. dan Universitas California di bidang hukum—dan dari keluarga yang juga sangat terpelajar: ibunya lulusan Universitas California, Berkeley, sedangkan ayahnya Universitas Stanford.

Jalur karirnya pun sangat jelas: mulai dari menjadi deputi jaksa di Alameda County, jaksa urusan kriminal di Kantor Jaksa Distrik San Francisco,  Jaksa Agung California, Senator, dan akhirnya Wakil Presiden.

Sejak awal, Kamala dikenal sebagai pejuang hak-hak sipil. Ketika menjadi Jaksa Agung California, Kamala menghukum geng-geng transnasional yang mengeksploitasi perempuan dan anak-anak serta menjual senjata dan obat-obat terlarang.

Ia juga memimpin studi dan investigasi dampak dari organisasi kriminal transnasional dan perdagangan manusia.  Banyak lagi yang dilakukan untuk orang lain di negara yang menyebut dirinya benteng demokrasi tetapi masih belum sepenuhnya memberikan hak-hak demokrasi kepada seluruh rakyatnya.

Untuk sampai ke pencapaian yang diraih Kamala seperti itu butuh integritas pribadi. Integritas seperti itu ditempa melalui pengalaman dan berbagai usaha.  Kata integritas berasal dari kata Latin integer (adi) yang mencakup aspek lahiriah, arti integritas dengan kepribadian seseorang yaitu jujur dan utuh, tidak cedera.

Dari integer lahir kata integritas-atis (f) yang berarti keutuhan, kelengkapan, kesempurnaan, kebulatan, kemurnian, kelurusan hati, sifat tidak mencari kepentingan sendiri, ketulusan, kejujuran, kebaikan, kesalehan, dan kemurnian.

Dengan demikian bisa dikatakan, seorang yang berintegritas adalah seorang yang memiliki keutuhan pribadi. Seorang yang berintegritas adalah seorang yang jujur dan bermoral teguh.

Bagaimana dengan Nikita Mirzani, apakah memiliki integritas pribadi seperti Kamala yang tidak diragukan lagi integritasnya. Kiranya, terlalu jauh menyandingkan integritas Kamala dan Nikita.

Akan tetapi, seorang Nikita Mirzani yang oleh banyak situs web yang menjelaskan tentang biografinya ditulis sebagai seorang artis—yang penuh sensasi dan kontroversial—seorang model, yang juga menggeluti dunia seni peran, tentu memiliki integritas pribadi walau dalam skala, tingkatan, atau derajad yang lain.

Tak satu pun, memang—sekurang-kurangnya dari sepuluh situs web—yang menyebutkan latar belakang pendidikannya. Yang mereka sebut justru beberapa kasus hukumnya.

Dalam salah satu beritanya, Kompas.com (07/09/2020) menulis, “Artis peran Nikita Mirzani merupakan salah satu figur publik yang mencolok dengan urusan hukum.

Dari perjalanan kariernya di dunia hiburan, sudah ada beberapa kasus hukum yang dilewatinya, mulai dari kasus perceraian hingga penganiyaan.”

Tetapi, apakah rendahnya tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi integritasnya? Atau apakah orang yang berpendidikan rendah, rendah pula integritasnya?

Integritas bukan hanya sekadar bicara, pemanis retorika, tetapi juga sebuah tindakan, sejalan antara pernyataan dan tindakan.

NEXT: Dua