Warga Besipae Nusa Tenggara Timur Kembali ‘Dijajah’ Polisi dan Tentara Indonesia

350 Tahun Indonesia Dijajah Belanda
350 Tahun Indonesia Dijajah Belanda

KUPANG, SURYAFLOBAMORA.COM-
Sehari setelah peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-75, warga Besipae, Desa Linamnutu, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur, kembali ‘dijajah’ aparat keamanan, sekitar pukul 11.30 Wita, Selasa (18/8).

Suasana kegembiraan, pekik kemerdekaan 75 tahun yang baru saja dikumandangkan 17 Agustus 2020 saat itu, berubah jadi duka, ratap tangis dalam deruh tembakan senapan aparat. Besipae mencekam!

Warga Besipae dipukul mundur, diusir dari rumahnya oleh sejumlah Polisi, TNI dan Pol PP. Rumah warga digusur dan dibongkar paksa aparat. Warga tak lagi memiliki tempat tinggal. Anak-anak, bayi dan ibu hamil terpaksa tidur di tanah beralaskan daun dan beratap daun lontar.

Informasi yang dihimpun Suryaflobamora.com, ada 29 rumah milik warga Besipae digusur dan dibongkar. Warga diusir ke luar dari lokasi yang merupakan tanah adat dan yang sudah ditempati bertahun lamanya. Situasi itu memanas, pasalnya warga tetap bersikeras untuk tidak keluar dari lokasi tersebut.

Hal itu memicu sejumlah aparat. Beberapa anggota Polisi (Brimob) akhirnya melepaskan 3 (tiga) kali tembakkan mengarah ke tanah. Warga panik dan ketakutan.

Beberapa ibu dan anak-anak, berusaha menghentikan aparat untuk tidak lagi melepaskan tembakan. Namun, mereka dihalau dan didorong aparat. Seperti yang dialami Mama Yohana Bait, Mama Ester dan sejumlah anak-anak.

Demikian laporan yang disampaikan Ketua Umum Forum Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Kupang, Fadly Anetong, Selasa (18/8/2020) malam.

Fadly mengatakan, tembakan tersebut menyebabkan ketakutan luar biasa bagi warga dan berpotensi menimbulkan trauma, serta merusak psikologi anak-anak Besipae.

“Bunyi tembakan, buat anak-anak, pemuda, para orangtua terkejut, panik dan takut. Ini buat warga takut, menangis dan trauma. Warga akhirnya bersembunyi lindung diri,” kata Fadly.