TENTANG FILM “KUJIRABITO”

TENTANG FILM “KUJIRABITO”
(Sebuah catatan dari pihak ketiga)

Oleh: Bruno Dasion SVD
Nagoya,12 sepetember 2021

Memasuki bulan ini, sebuah film dokumenter dengan judul KUJRABITO (bahasa Jepang) mulai ditayangkan pada beberapa cinema di kota-kota besar Jepang. Saya sendiri menontonnya di Nagoya.

Film ini adalah hasil karya sutradara dan fotografer terkenal Jepang, Bon Ishikawa. Dan merupakan kesimpulan dari seluruh penelitian dan pendataannya selama 30 tahun tentang tradisi penangkapan ikan paus di Lamalera, Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Berikut ini beberapa catatan atas film yang bisa menjadi bahan refleksi bagi kita semua.
●Posisi saya:
Saya sendiri tidak pernah mewawancarai Bon secara pribadi untuk mengatahui niat pribadinya, tetapi dengan menonton film ini, saya coba memberikan satu-dua pemahaman (yang tentu hanyalah pendapat pribadi saya, yang tidak mewakili pikiran Bon dan semua yang terlibat dalam proses besar pembuatan film ini).

Perlu ditegaskan disini, bahwa ada tiga kelompok besar yang terlibat dengan film ini. Kelompok Pertama adalah sang sutradara, Bon Ishikawa, dan juga semua anggota kru dari Jepang. Kelompok Kedua, adalah semua orang Lamalera yang terlibat langsung dalam proses pembuatan film. Sedangkan Kelompok Ketiga adalah mereka yang tidak terlibat dalam dua kelompok terdahulu, khususnya mereka yang menonton film ini.

Dalam menulis catatan ini, saya menempatkan diri saya sebagai bagian dari kelompok ketiga. Hal ini saya maksudkan, supaya bisa bebas dan apa adanya dalam menuliskan kritik ini, tanpa harus punya beban perasaan, karena harus berbela rasa tentang hubungan pribadi atau keluarga dengan sutradara dan juga semua anggota kampung yang terlibat.
Tentu saja, tujuan catatan (kritik) ini adalah untuk memberikan apresiasi yang wajar kepada sebuah karya artistik, kepada sutradara dan semua yang terlibat langsung. Kalaupun itu sebuah kritik sehubungan dengan berbagai kekurangan yang terbaca di dalam film, tetapi hal ini bukan untuk memojokkan pihak tertentu tetapi demi sebuah refleksi dan perbaikan dalam memelihara dan menghidupi budaya kenelayanan Lamalera.