Mengendus Cinta dari Tena-Laja Lamalera

Peledang (Perahu) Nelayan Tradisional Lamalera Lembata
Peledang (Perahu) Nelayan Tradisional Lamalera Lembata

Mengendus Cinta dari Tena-Laja Lamalera

Oleh: Charles Beraf

Cinta, kata filosof Gabriel Marcel, adalah pengalaman yang sifatnya intersubyektif. Cinta merupakan pengalaman yang sifatnya amat personal, sangat pribadi dari mereka yang saling mencintai. Hanya orang yang pernah terlibat dalam pengalaman mencintai dan dicintai yang bisa memahami dengan sepenuhnya apa itu cinta; kehangatan, kemesraan dan sebagainya. Dengan demikian cinta merupakan pengalaman personal dari setiap orang entah siapapun juga, yang terdorong untuk mencintai dan dicintai. Selain itu, cinta juga merupakan pengalaman hidup yang sifatnya ekstensial. Pengalaman akan cinta itu menyangkut keberadaan atau eksitensi setiap manusia, yaitu kenyataan ia berko-eksistensi bersama dengan orang lain.

Sebagai pengalaman intersubyektif dan eksistensial, cinta (semestinya) tidak bisa tidak melekat dengan eksistensi manusia. Karena itu, ia bisa dimulai, tumbuh dari mana saja. Masyarakat nelayan Lamalera menghidupi tradisi perahu (berperahu) sebagai cara atau juga domain melaluinya cinta diungkapkan. Perahu, bagi masyarakat nelayan Lamalera, adalah kehidupan.

Perahu, yang dalam bahasa setempat dinamakan tena-laja (tena=perahu laja=layar. Keduanya merupakan satu kesatuan utuh. Karena itu selalu disebut sejajar, tak bisa dipisahkan), tidak hanya berada semata sebagai tradisi, tetapi juga suatu konsep kultural; suatu cara penyandian (encoding) dan penghidupan nilai-nilai masyarakat melalui bentuk, ukuran dan atributnya. Pada tena-laja, terkontruksi secara sangat signifikan makna-makna dan posisi-posisi bagi subyeknya. Karena itu, tena-laja, selin menjadi domain, obyek yang direpresentasikan, juga menjadi semacam sebuah organisme yang dikelola untuk merepresantikan pengertian-pengertian, hasrat-hasrat, bahkan filosofi hidup orang-orang Lamalera.

Sebagai representasi kehidupan, tena-laja dikonstruksi, diperlakukan dan diorganisir seperti tubuh manusia. Tiap bagian atau organ yang terbentuk sebagai sebagai satu tubuh manusia. Tiap bagian atau organ yang terbentuk sebagai satu tubuh, korps yang bernama tena-laja itu mengikuti organ-organ manusia dengan fungsi atau peran (diperankan) yang spesifik, seperti ie, are bele, nefi, tnepa, faimate, huak, glefe, lamauri, node puke, mnula (blobos) dan hamma lolo. Tiap bagian memuat filosofi yang tidak bisa tidak dihidupi oleh tiap subyek yang menempati atau memeraninya.