Pekerja Tuhan yang Setia

Pekerja Tuhan yang Setia
(P.Steph Witin, SVD)

Pekan Biasa XXV
Yesaya 55:6-9;
Filipi 1:20c-24.27:
Matius 20:1-16

“Tidak ada orang yang mengupah kami” (Mat 20:7)

Manusia adalah makhluk yang bekerja. Homo laborans. Identitas ini menyatu dengan diri dan hidup. Aktivitas bekerja berkorelasi positif dengan hidup. hanya orang yang bekerja yang bisa hidup. Kerja demi hidup itu terkait erat dengan kreativitas. Tuhan menciptakan manusia sempurna Dallam dirinya. Pancaindra lengkap. Ada otak untuk berpikir. Ada emosi untuk merasa. Ada kaki dan tangan untuk beraksi. Tuhan juga menciptakan alam semesta sebagai ruang bagi manusia untuk hidup. Bahkan perkembangan peradaban dengan segala kemajuan menyediakan berbagai peluang dan kesempatann untuk bekerja agar hidup lebih baik. Maka pertayaan pemilik kebun anggur “Mengapa kamu menganggur di sini saja sepanjang hari?” (Mat 20:6) adalah pukulan telak kepada keberadaan manusia. Tapi pemilik kebun anggur memberikan solusi: ada kebun anggur yang mahaluas yang butuh banyak pekerja. Tuhan menghendaki agar kebun anggur-Nya lebih banyak lagi menghasilkan anggur yang berbobot. Tidak boleh ada sudut kebun anggur yang dibiarkan merana. Tak terjamah dan tidak diperhatikan. Banyak orang yang menganggur adalah satu ironi penuh lawak untuk satu kebun anggur mahaluas yang justru butuh banyak pekerja.

Hal yang menarik adaalah jawaban para penganggur pukul lima sore. “Tidak ada orang yang mengupah kami.” Pemilik kebun anggur menyuruh mereka bekerja. Entah mau jam berapa sekalipun, kebun anggur itu harus dikerjakan. Logika bisnis pembayaran bukanlah hal yang lebih penting. Walau pemilik kebun anggur itu sejatinya memang rugi sedinar untuk masa kerja cuma sesaat saja. Kemurahan hati pemilik kebun anggur justru menghadirkan kecemburuan bagi penggarap-penggarap terdahulu. Harapan mendapat lebih tak kesampaian. Semuanya pas pada “upah sedinar sehari.” Tidak ada kesepakatan yang dilanggar. Itu kesepakatan awal. Tak peduli entah jam berapa dipanggil untuk bekerja di kebun anggur.
Perumpamaan ini Yesus tujukan kepada para murid-Nya. Sesungguhnya, berita tentang Kerajaan Surga ditujukan kepada siapa saja. Kedaulatan Kerajaan Surga menjadi tanggung jawab bersama. Tak pernah boleh ada suasana “pengangguran.” Semua mesti aktif bekerja. Repotnya, bila dalam perjuangan demi Kerajaan Allah, tetap ada yang berpikir dan merasa “lebih dan mesti diutamakan.” Merasa bahwa dialah yang “lebih unggul” dalam penegakkan Kerajaan Surga dan karenanya menuntut hak dan perhatian ekstra (Mat 20:12). Para murid mesti sadar: jangan karena merasa dekat dengan Yesus lalu merasa sok tahu dan mau mengatur aroma Kerajaan Surga dan kuasanya (Mrk 9:38-40).

Dalam konteks pemberitaan Injil dalam Kristus dan segala “hidup dan mati dalam Kristus” itu, Rasul Paulus menunjukkan teladan yang unggul. Tanpa keterpaksaan. Tiada protes. Yang ada dalam hatinya adalah kepasrahan Injili demi jemaat di Filipi, “tetapi demi kamu lebih berguna aku tinggal di dunia ini” (Flp 1:24). Andaikan pekerja-pekerja terdahulu tulus dalam hatinya berucap “demi kebun anggur, kami tetap pada kesepakatan sedinar sehari’” maka tak perlu ada kecemburuan dan iri hati.

Gereja adalah tentang “kita bersama” dalam seluruh pergumulan ziarahnya. Gereja tak boleh terkotak-kotak dalam: aktif penuh, aktif setengah, aktif kadang-kadang, dan sama sekali tak aktif. Tak boleh ada pengangguran “sepanjang hari.” Apalagi kalau harus sampai jadi pengangguran “bertahun-tahun atau bahkan sepanjang hidup.” Tetapi ini juga amat tergantung pada “seni memberi upah.” Tentu, tak selamanya upah materialistik. Ada pemberian upah melalui kepercayaan, pemberdayaan, melibatkan, memberi tanggung jawab, apresiasi sewajarnya. Bukankah sering terjadi bahwa pengangguran muncul karena belum optimalnya pemberdayaan? Belum ada kebesaran jiwa dalam memberi kepercayaan dari yang punya kuasa dan wewenang? Dapat terlihat jelas bahwa terkadang hidup Gereja tergantung dan terfokus pada “orang-orang yang itu-itu saja.” Dan yang tetap menganggur ada pada orang yang sama-sama saja.

Dalam segalanya, kehendak Tuhan adalah pusat. Apapun gerak hidup setiap orang Kristen dan juga dalam kebersamaan, segalanya berpusat dan berakar pada kehendak Allah. Setiap kita mendapat kepercayaan dan tanggung jawab untuk membahasakan kehendak Allah itu dalam pergumulan kehidupan setiap hari. Walau tentunya kita hadapi juga kenyataan dalam Tuhan yang sulit dipahami (Yes 55:8).
Maka saat Tuhan dan kehendakNya menjadi sumber dan inspirasi dasar keterlibatan dan tanggung jawab bersama, maka tak pernah boleh lagi ada keluhan dan kepasrahan pasif, “tidak ada orang yang mengupah kami.”

Setiap kita mendapatkan karunia, berkat dari Tuhan. kita punya kesanggupan, bakat, kehebatan, keterampilan tertentu. Carilah terobosan untuk membangun Gereja, kehidupan bersama dan peradapan dunia untuk semakin lebih baik dan semakin bermartabat. Tak perlulah melirik pada kemurahan Tuhan yang ada pada sesama kita. Yang dianugerahkan kesanggupan luar biasa. Yang memperoleh hasil yang luar biasa pula. Tak perlu ada cemburu. Lenyapkanlah rasa iri hati. Kita cuma berjuang untuk setia mengembangkan apa yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Intinya kita bukanlah orang-orang yang menganggur saja. Berilah upah awal sepantasnya pada anak-anak: dorongan, pujian, semangat, kepercayaan, keterlibatan… agar sedari usia dini mereka belajar untuk memberi yang terbaik bagi Gereja, masyarakat dan demi kehidupan pada umumnya. *