Unwira Kupang Gelar Webinar Urun Rembuk Menyambut Puncak Dies Natalis ke-39

Dr. Okto Naif memberi pikiran dalam perspektif filsafat, tentang bagaimana frustrasinya manusia menghadapi pandemi Covid-19. Tesis filosofisnya bahwa filsafat bisa memberi jalan keluar terkait pandemi. Caranya adalah dengan mengubah cara pandang terhadap pandemi dan penderitaan yang diakibatkan olehnya.

Kata Dr. Okto, ada tiga pendekatan untuk membaca penderitaan termasuk derita akibat pandemi Covid-19. Pertama, Jalan Anastesis. Yaitu berjuang untuk mengabaikan hal yang tidak penting. Kedua, Destruksi Estetika. Yaitu coba untuk melawan penderitaan dengan cara seni. Bahwa manusia bisa melawan pandemi tidak dengan amarah dan kekuatan tapi dengan estetika atau perasaan seni. Misalnya dengan melihat kegiatan mencuci tangan itu sebagai sebuah seni. Memakai masker itu sebuah seni. Dan menjaga jarak itu sebuah seni bertindak.

“Sehingga tanpa konfrontasi, Covid-19 justru dilawan dengan seni. Termasuk semua aturan pandemi dimakanai sebagai sesuatu yang estetis atau seni,” ulas Dr. Okto.

Pembicara berikut, Dr. Perseveranda yang menyoroti masalah kemiskinan di NTT. Ide yang dilahirkannya tentang strategi penanggulangan kemiskinan di NTT.

Menurutnya, kemiskinan di NTT harus ditangani dengan serius. Ukuran kemiskinan itu bisa dilihat dari pemenuhan kebutuhan pokok.

“Ukuran nominal untuk NTT adalah Rp 403 ribu per bulan. Pendapatan perkapita per orang itu wajib dilampaui agar tidak miskin. Jika di bawah angka tersebut, maka dia miskin,” kata Perseveranda.

Umat Kapela St. Markus Kaniti, Penfui Timur, Kabupaten Kupang, mendapat uluran kasih dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Jumat (17/9/2021
Umat Kapela St. Markus Kaniti, Penfui Timur, Kabupaten Kupang, mendapat uluran kasih dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Jumat (17/9/2021

Menurutnya, orang miskin di NTT adalah mereka yang membutuhkan perhatian pemerintah, gereja dan semua kita. Sebab, sebagaimana kata-kata Bunda Teresa dari Calkuta bahwa: “Kalau kita tidak bisa memberi makan kepada 100 orang, maka kita cukup memberi makan kepada satu orang”.