Dua Tahun Gedung Pasar Rakyat Lewoleba Lembata Tidak Berfungsi

LEMBATA, SURYAFLOBAMORA.COM-
Gedung Pasar Rakyat Pada, Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, sudah sekitar dua tahun lebih, belum difungsikan para pedagang. Dan gedung itu terancam mubazir.

Gedung pasar tersebut, dibangun menggunakan dana Tugas Pembantuan (TP) Kementerian Perdagangan senilai Rp 5,7 miliar, oleh PT Kalimasada Zaharaa Jaya. Namun, sebagian besar kondisi fisik gedung, belum rampung. Saat ini beberapa bagiannya telah rusak, baik dari lantai, pintu hingga atap dan belum diserah terimakan.

Sekda Lembata, Paskalis Ola Tapobali yang dikonfirmasi, Selasa (18/5/2021) belum bisa memastikan alasan terkait tidak difungsikan gedung pasar tersebut.

“Nanti saya cek apa kendalanya karena itu bisa saja terkait hal teknis,” kata Sekda Paskalis.

Sementara Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Karolus Wayong yang dikonfirmasi mengatakan, pihak Dinas Koprindag Kabupaten Lembata, saat ini sedang melakukan pembenahan areal parkir gedung baru Pasar Rakyat Pada. Setelah rampung, gedung itu akan difungsikan.

“Kita sedang pembenahan untuk parkiran sebelah barat. Jadi setelah itu baru di pakai,” kata Karolus Wayong, Selasa (18/5).

Namun sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Lembata melalui Dinas Koprindag, memastikan gedung pasar itu, bisa diserah terimakan dan difungsikan para pedagang di Lembata pada Maret 2021.

“Memang kendalanya masih ada satu dua atap seng terlepas. Lagi diupayakan untuk dibenahi,” kata Karolus pada beberapa bulan kemarin.

Selain itu, pemberitaan sebelumnya, gedung Pasar Rakyat Pada belum difungsikan selama dua tahun lebih ini, karena ada beberapa pengerjaan belum selesai. Di antaranya, Pintu atau Rolling Door sebagian besar lapak sudah rusak dan ada yang belum terpasang. Selain itu, ukuran lapak yang disiapkan sangat kecil dan sempit. Beberapa bagiannya sudah dicoret-coret dengan cat. Dilihat saksama, gedung tersebut asal dibangun dan tidak layak digunakan untuk menjajahkan atau menyimpan barang dagangan.

“Tidak tahu sampai kapan gedung itu bisa dipakai. Lagian lapak itu kecil sekali. Kita mau simpan atau taruh barang di mana, kita mau berdiri di mana? Kecil sekali dan belum dipakai sudah mulai rusak,” kata Niko Pedagang Sembako.

Pihak Inspektorat Jenderal Kementerian Perdagangan saat memantau hasil pengerjaan fisik gedung pasar tersebut. Termasuk tidak adanya progres pengerjaan tahap akhir (finishing).

Dalam kunjungan pertama, Tim Inspektorat Jenderal Kementerian Perdagangan menemukan kekurangan sekitar Rp 700 juta. Kemudian dalam kunjungan kedua, Tim kementerian tersebut, menemukan sisa kekurangan sekitar Rp 300 juta.

Editor: Alvin Lamaberaf