PMI Kecewa dan Setopkan Distribusi Air ke Ile Ape

Relawan JPIC SVD dihadang dan dibentak saat menghantar sumbangan korban bencana di Ileape Jumat (23/4)
Relawan JPIC SVD dihadang dan dibentak saat menghantar sumbangan korban bencana di Ileape Jumat (23/4)

LEWOLEBA, SURYAFLOBAMORA.COM-Palang Merah Indonesia (PMI) setopkan pelayanan air bersih untuk korban bencana di Ile Ape, Kabupaten Lembata, Provinsi NTT.

Pasalnya, relawan yang membawa air bersih bagi para korban, dihadang dan dibentak petugas yang berada di Posko Pemda Lembata.

“Kami juga sama dibentak. Jadi kami tidak jadi distrubusi air dan pulang. Kami sekarang memutuskan untuk sementara tidak mau distribusi air ke Ile Ape karena belum ada klarifikasi yg jelas dari Pemda. Mana Tanki kami dari Jakarta jadi sopirnya juga orang jawa tersinggung dengan perlakuan mereka karena di paksa berhenti tanpa penjelasan yang jelas,” kata Nathalia Bisik, Kordinator PMI NTT di Lembata, Senin (26/4).

Kata Nathalia, pihaknya jenuh berurusan dengan petugas yang berjaga di Posko yang berada di jalan cabang menuju wilayah Tanjung Ileape. Petugas dinilai kurang ramah dan sopan.

“Malas terlalu berurusan dengan mereka. Jadi kami pilih untuk pulang. Sudah begitu tahan orang macam orang ada pencuri saja. Cara suruh lapornya kurang ramah dan tidak sopan sekali. Kita ini karena kemanusiaan peduli terhadap para korban,” ungkap Nathalia.

Nathalia mengatakan, pihak petugas Posko beralasan agar pihaknya harus melapor di Posko yang baru dibangun sehari itu. Selain itu, petugas menyampaikan bahwa di Desa Parek Walang, ada pengungsi mandiri telah terkonfirmasi positif Covid 19.

“Alasan mereka, kita lapor di Posko yang mereka sudah bangun. Dan katanya lagi di desa yang ada Posko mandiri di Parek Walang ada yang Covid. Jadi mereka larang untuk mau distribusi. Alasannya ada yang kena Covid, tapi petugas yang tahan juga tidak pake masker,” kata Nathalia.

Nathalia mengatakan, para korban bencana membutuhkan pelayanan yang cepat dan tepat sasaran. Penanganan harus dilakukan segera, bukan mengulur-ulur waktu. Apalagi ini merupakan kerja kemanusiaan. Apakah Pemda bisa mengatasi para korban dengan baik? Ini adalah tugas kemanusiaan untuk segera menolong para korban.

“Ini tugas kemanusiaan. Para korban harus merasakan bantuan ini secepat mungkin. Kita mau tunggu siapa yang bergerak cepat kalau bukan relawan. Kordinasi bantuan saja lemah dan itu fakta yang terjadi. Banyak relawan kemanusian mengeluhkan respon lamban itu. Kami sangat sayangkan hal itu. Sopan dan ramah sedikit bukan seperti itu caranya,” pungkas Nathalia.

Seperti diberitakan sebelumnya, kejadian tersebut dialami juga oleh Relawan JPIC SVD, yang dihadang dan dibentak petugas Posko dengan sikap yang tidak sopan.

Sekda Lembata, Paskalis Tapobali sore ini dikonfirmasi mengakui adanya kejadian tersebut, Jumat 23 April kemarin.

Bahwa ada oknum ASN dan Relawan JPIC SVD terlibat adu mulut dengan nada suara yang meninggi. Dan diyakini itu karena kesalahpahaman diantara oknum ASN dan Relawan.

“Memang ada kejadian kemarin di lapangan, di mana ada oknum ASN dan Relawan JPIC terlibat adu mulut dengan nada suara yang meninggi. Saya tidak mengetahui persis tapi saya yakni itu hanya kesalahpahaman di antara mereka saja,” jelas Sekda Paskalis.

Menurutnya, pihaknya tidak ada niat untuk melakukan tindakan yang negatif lainnya. Semua komponen memiliki niat yang tulus dalam aspek kemanusiaan.

“Tidak ada niat untuk melakukan tindakan yang negatif lainnya. Kita memahami, semua komponen memiliki niat yang tulus dalam aspek kemanusiaan ini,” pungkas Sekda Paskalis.

Editor: Alvin Lamaberaf