Kisah Di Balik Pembuatan Film ‘Keru Baki’ Hingga Lolos Festival Film Internasional

Proses menggarap Film 'Keru Baki'
Proses menggarap Film 'Keru Baki'

LEMBATA, SURYAFLOBAMORA.COM- Masih tentang ‘Keru Baki’, film genre eksperimental berdurasi 10 menit, karya anak Lembata, Nusa Tenggara Timur, yang lolos Festival Film Internasional.

Kabar gembira ini, sungguh membuat masyarakat NTT dan khususnya Lembata, terkesima. Dan masih terasa hangat, bahkan menjadi tranding topic di media sosial.

Kisahnya begini. Mulanya, dipenghujung akhir tahun 2019, terbersit ide Aldi Bediona dan teman-teman komunitas di Lembata, untuk menggarap sebuah film pendek dengan mengambil isu sifat emosional manusia yang berdampak pada pengrusakan. Film ini, direncanakan untuk ditayangkan pada perayaan Hari Film Nasional ke-74 tanggal 30 Maret 2020. Namun niat dan ide briliant itu terhalang, ketika negeri ini dihempas pandemi Covid-19 kala itu.

Tak surut dimakan Covid-19, Aldi Bediona terus mengeksplorasi ide tersebut, dengan mengobservasi orang-orang sekitar, termasuk dirinya sendiri, terkait emosi yang memengaruhi tingkah laku.

Setelah yakin dengan ide dan data hasil obdervasi yang dimiliki, Aldi Bediona mulai merancang treatment visual, untuk menata alur film yang dimaksud. Tetapi apa mau dikata, dalam perjalanan, Aldi dihadapkan pada masalah finansial untuk memproduksi film tersebut. Keterbatasan dana dan kru menjadi hambatan saat itu.

“Pandemi Covid-19 saat itu, telah menghalangi niat saya. Tetapi saya tidak menyerah. Saya terus berusaha eksplorasi ide yang sudah saya niatkan. Tetapi malah kembali terbentur dana dan kru yang tidak mencukupi produksi film ini. Saya pun berhenti sejenak. Saya tak bisa paksakan ditengah situasi pelik itu,” ungkap Aldi Bediona, Kamis (8/7/2021).

Meskipun dalam situasi ketidakpastian akibat Covid-19 sepanjang tahun 2020, Aldi terus berusaha. Sebagian pendapatan atau penghasilan yang didapatkan dari usaha foto, video dan usaha kecil lainnya, Aldi tetap sisihkan (tabung) sebagai modal melanjutkan produksi film yang akan mengangkat isu, sifat emosional manusia yang berdampak pada pengrusakan tersebut. Rintangan itu berlanjut sampai tahun 2021.

“Dalam situasi tak pasti akibat pandemi, saya tetap menyisihkan sebagian pendapatan saya agar dapat lanjutkan produksi film. Hasil jasa foto, video yang saya buat, saya tabung sedikit,” kata Anak Mendiang Feliks Bediona.

Diawal tahun 2021, teman-teman Aldi dalam komunitas, kembali menginisiasi untuk merayakan Hari Film Nasional ke-75, karena melihat situasi pandemi Covid-19 mulai berangsur baik.

Mengingat durasi waktu sangat terbatas untuk memproduksi film yang sudah dirancang sebelumnya, Aldi memutuskan untuk menggarap film pendek bertema horor. Dan film ini direncanakan akan diputar di Hari Film Nasional ke-75, yang jatuh pada 30 maret 2021.

Pertengahan Februari 2021, Aldi memulai pra produksi dengan mencari lokasi untuk film horor. Jhoni Kayowuan rekan Aldi (Pemeran Molan dalam ‘Keru Baki’) merekomendasi sebuah lokasi hutan Bakau di wilayah Lewoleba dan Ile Ape.

“Di hutan Bakau ini, pikiran saya dibawa ke rencana film awal yang sudah saya rancang. Satu kata yang terbersit kala itu adalah ‘perselisihan’,” kata Aldi.

Di hutan Bakau tersebut, ide-ide baru mulai muncul, ketika Aldi melihat masih ada sampah yang berserakan di dalam hutan Bakau. Melihat itu, Aldi terinspirasi menyuarakan pesan untuk mulai berdamai dengan alam atau make peace with nature.

“Saya terinspirasi saat itu. Dan ide itu, saya sampaikan ke Jhoni. Dalam sekejap, Jhoni perkenalkan saya akan ritual ‘Keru Baki’ di kampungnya Ohe, Ile Ape,” ungkap Aldi Bediona.

Mengingat waktu dan dana, serta tenaga yang minim, Aldi dan Jhoni memutuskan untuk sendiri menggarap film tersebut.
Aldi dan Jhoni akhirnya dibantu oleh Bung Vinsen Halimaking (pemuda Ohe) untuk menyiapkan syair dan segala perlengkapan untuk ritual ‘Keru Baki’.

“Saya kemudian mensiasati semua keterbatasan itu dengan pendekatan film Eksperimental,” kata Aldi.

Proses penggarapan Film ‘Keru Baki’ pun dimulai dalam serba terbatas. Dalam tiga hari, semua visual pembuatan film, berhasil direkam.

“Visualnya saya rekam selama tiga hari. Lokasinya di hutan Bakau wilayah Batas Kota dan beberapa visual lainnya, saya rekam di Desa Ohe, Ile Ape. Ya semua serba terbatas tapi saya berusaha dapatkan hasil rekaman yang maksimal.
Pasca produksi dilakukan selama dua minggu. Termasuk merekam vokal Ririn Atu dan Tasya Roma untuk arensemen lagu rakyat ‘Leworo Piring Sina’ oleh sahabat saya Alfred Ike Wurin,” beber Aldi Putra Asal Lamalera.

Begitu secuil kisah Film ‘Keru Baki’ digarap Aldi, Jhoni dan rekan-rekannya menembus seleksi Kalimantan Indigenous International Film Festival (KIIFF) 2021. 

Sejak awal, ‘Keru Baki’ telah direncanakan untuk ikut dalam Festival Film di Indonesia. Tetapi setelah menjajaki sejumlah informasi di media, pada akhir April 2021, ‘Keru Baki’ ikut bertempur dalam KIIFF 2021, yang mengusung tema, Earth Protector : Heal the Land, Heal the Feature.

“Lewat internet saya cari tahu festival di Indonesia ternyata ada KIIFF yang khusus menyuarakan film maker lokal dengan mengusung tema budaya. Waktu itu ada dua festival di Bali dan Kalimatan. Tapi Bali tidak adakan festival waktu itu,” ungkapnya.

Aldino sudah lama menggeluti dunia perfilman. Setelah menuntut ilmu perfilman di Kota Semarang, Jawa Tengah, Aldi memilih berkarya di jalur film indie. Dan tercatat beberapa film berlatar Lembata karyanya telah menghiasi dunia perfilman di NTT. 

Terkait Film Eksperimental ‘Keru Baki’,
Aldi menjelaskan, eksperimental atau disebut sinema eksperimental merupakan sebuah metode pembuatan film, yang mengevaluasi ulang konvensi sinematik dan mengeksplorasi bentuk-bentuk non-naratif dan alternatif, menjadi naratif tradisional atau metode-metode dalam pengerjaan.

Dan dalam pembuatannya, tidak ada teknik yang pasti, karena film eksperimental memiliki ciri khas, yaitu tergantung dari cara sineas dalam menuangkan ekspresinya menjadi sebuah film. Para pembuat biasanya memasukkan simbol-simbol tersendiri untuk menggambarkan apa yang ada di pikiran mereka.

Penulis: Protus Burin/Alle
Editor: Alvin Lamaberaf