Polres Lembata Diminta Serius Ungkap Kematian Wakasek SMK Atadei

LEMBATA, SURYAFLOBAMORA.COM-
Kematian Wakil Kepala Sekolah SMK Atadei, Agustinus Leyong Tolok alias Gusti Tolok, hingga saat ini masih menyisahkan misteri yang belum terungkap.

Pihak kepolisian Polres Lembata diminta agar fokus untuk bisa mengungkap kematian Agustinus yang diduga dibunuh.

“Saya harap penyidik Polres Lembata lebih fokus dalam mengungkap kasus kematian Agustinus Leyong Tolok. Ini masih misterius,” kata Kuasa Hukum Pelapor, Emanuel Belida Wahon, Jumat (19/2/2021).

Menurut Belida Wahon, dari data-data keterangan para saksi yang dihimpun, ada hal-hal yang dianggap janggal sebelum dan sesudah korban ditemukan. Dan hal ini, telah disampaikan kepada penyidik oleh para pelapor.

“Dari keterangan para saksi, ada hal-hal yang dirasa janggal sebelum dan sesudah korban ditemukan. Dan ini sudah disampaikan ke penyidik. Kita harap penyidik cermat melihat ini,” kata Belida Wahon.

Lanjut Belida Wahon, kejanggalan yang telah disampaikan oleh para pelapor kepada penyidik, antara lain Pertama; bahwa sebelum dilakukan pencarian, lokasi korban ditemukan, telah didatangi atau dilewati oleh beberapa orang, namun tidak ditemukan apa-apa.

Kedua; ada oknum rekan kerja korban yang sebelum korban ditemukan, telah lebih dahulu menyebarkan informasi kepada beberapa orang, bahwa korban menghilang dan membunuh diri dengan meminum racun. Hal itu dikarenakan korban merasa setres, akibat disiksa oleh istri menjunjung piring sambil berlutut.

“Bagi saya, dua keterangan ini janggal. Korban belum ditemukan tetapi sudah divonis meninggal karena minum racun akibat setres. Begitu juga dengan lokasi korban ditemukan. Cukup dua hal ini saja, kita sudah bisa menilai ada yang tidak beres,” jelas Belida Wahon.

Katanya, terkait hal itu, pihak kepolisian Polres Lembata telah memeriksa 5 (lima) orang saksi di Desa Atakeja, Kecamatan Atadei pada 12 Februari 2021.

“Lima saksi sudah diperiksa polisi. Kita harap kesaksian mereka bisa membuka misteri kematian ini,” kata Belida Wahon.

Dikatakannya, saat ini pihak keluarga korban masih menunggu hasil otopsi sampel organ tubuh Agustinus di Laboratorium Forensik Polri Cabang Denpasar.

“Berdasarkan SP2HP dari kepolisian, sampel organ tubuh telah dikirim ke Laboratorium Forensik Polri di Denpasar untuk mengetahui penyebab kematian Agustinus. Kita tunggu hasilnya seperti apa. Biar keluarga korban dan publik tidak terus mempertanyakan kerja polisi ungkap kasus ini,” kata Belida Wahon.

Belida Wahon pun mengapresiasi langka maju yang ditempuh oleh penyidik Polres Lembata, yang telah menyampaikan SP2HP kepada pelapor.

“Kita apresiasi kepada para penyidik Polres Lembata atas langka maju yang dilakukan. Kita berharap kasus ini terungkap agar motif dan pelaku dugaan pembunuhan bisa diketahui. Kita tidak mau pada akhirnya kasus ini mendekam di kepolisian dan menimbulkan hilangnya kepercayaan, serta timbul hal-hal yang tidak diinginkan bersama,” pungkas Belida Wahon.

Diberitakan sebelumnya, Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) SMK Atadei, Agustinus Leyong Tolok alias Gusto ditemukan tak bernyawa dengan kondisi fisik tidak wajar. Wajahnya membiru dengan posisi tidur tergeletak di selah batu di Kali Mati, dekat kandang Babi, yang tak jauh dari lokasi SMK Atadei.

Sebelumnya, Gusto menghilang dua hari dari rumah tempat tinggalnya dan pihak keluarga sempat mencari tahu keberadaannya, hingga menemukannya tidak bernyawa, Sabtu (14/11/2020) dan dimakamkan Minggu (15/11/2020).

Dalam informasi yang direkam Suryaflobamora.com, dari beberapa sumber menyebutkan, sebelum meninggal Gusto sempat bersama salah satu guru/ pegawai SMK atasnama Gregorius. Keduanya sempat masuk ke dua ruang sekolah yang berbeda. Salah satunya Ruang Sayur. Namun akhir cerita, setelah itu Gregorius tidak mengetahui keberadaan Gusto setelah dari ruang sekolah. Sementara sepeda motor milik Gusto masih parkir di halaman sekolah. Dan kunci motor milik Gusto, ditemukan tepat di atas batu disamping korban.

Sejumlah sumber mengatakan, sejak jenazah korban berada di rumah duka Berdikari Lewoleba sampai dengan korban dimakamkan, ada gelagat dan tutur pihak yang hadir perlu diduga. Termasuk rekan kerja mulai dari kepala sekolah sampai para guru dan pegawai.

Hal itu karena dari sikap dan tutur terkait kematian korban, masih belum selaras. Ada banyak cerita yang simpang siur. Sehingga pihak kepolisian harus bisa mengusut dan memeriksa para saksi terutama sejumlah guru dan pegawai termasuk istri korban.

Editor: Alvin Lamaberaf