Uskup Larantuka Kembangkan Agrowisata Berbasis Sorgum

Uskup Larantuka Mgr. Frans Kopong Kung, Pr menanam benih sorgum di lokasi agrowisata Dekenat Lembata
Uskup Larantuka Mgr. Frans Kopong Kung, Pr menanam benih sorgum di lokasi agrowisata Dekenat Lembata

LEMBATA, SURYAFLOBAMORA.COM- Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung menyulap lahan kosong di belakang Gedung Dekenat Lembata, Kabupaten Lembata, menjadi kawasan agrowisata, Jumat (30/7) kemarin.

Bahkan Uskup Larantuka ini membawa serta tanaman sorgum menjadi ciri khusus dari agrowisata, dan menanam benih sorgum perdana di atas lahan seluas kurang lebih satu hektar.

Sorgum oleh masyarakat Lembata dikenal sebagai wata holo atau kvar olot ini, adalah salah satu tanaman sumber pangan yang sudah lama dikembangkan petani Lembata dan juga petani di daratan Flores, Nusa Tenggara Timur.

Sorgum yang merupakan tanaman bandel yang mampu bertahan di iklim ekstrim seperti Lembata, ditargetkan menjadi ikon dan daya tarik dari agrowisata Keuskupan Larantuka.

“Saya dan para pastor di sini tanam sorgum, tidak sekedar untuk urusan pangan. Tapi juga untuk jaga kelestarian alam dan kelestarian kearifan lokal Lembata. Sorgum atau wata holo ini sejak dahulu kala ditanam oleh petani. Mereka tanam padi tapi mereka juga tanam sorgum di pinggir kebun untuk jaga dan alihkan perhatian burung. Dan itu sudah lama ditinggalkan. Dan saya mau itu harus dikembalikan,” kata Uskup Frans Kopong Kung.

Katanya, agrowisata berbasis sorgum, akan menarik minat kaum muda atau milenial dan menjadi tempat belajar. Sehingga kawasan itu harus ditata dengan baik.

“Agrowisata ini untuk menarik minat anak muda. Mereka datang ke sini, sambil belajar. Kawasan ini harus ditata secara baik supaya indah. Pohon-pohon besar ini tidak boleh ditebang. Supaya burung-burung juga datang di sini. Pasti indah sekali jika sore-sore kita nikmati kicauan burung di sini,” ungkap Uskup Frans Kopong Kung.

Hadir dalam kesempatan itu, sejumlah tokoh agama Katilik Lembata termasuk beberapa pastor. Di antaranya Deken Lembata, Romo Sinyo Da Gomes, Pr dan Pastor Paroki Lewoleba, Romo Blasius Kleden, Pr. Ada juga tokoh agama katolik lain seperti Yakobus Kia dan Bala Warat Gabriel.

Mereka semua secara bergantian memegang kayu dan melubangi tanah dan mengisi 2-3 butir benih sorgum.

Menurut rekaman Suryaflobamora.com, sebelumnya, Yaspensel yang merupakan lembaga pemberdayaan milik Keuskupan Larantuka, telah mendampingi masyarakat dari sejumlah desa di Kabupaten Lembata untuk membudidayakan sorgum. Tidak hanya budidaya, para petani sorgum ini juga sudah mulai melakukan pengolahan pasca panen sorgum.

Contohnya kelompok petani sorgum Ile Nogo, Desa Wuakerong, Kecamatan Nagawutung. Mereka sudah mengolah berbagai jenis makanan seperti kue, bubur dan kolak dari biji sorgum. Bahkan sorgum sudah dijadikan nasi sebagai alternatif pengganti beras.

Selain itu, sekelompok anak muda di Desa Tapobali, Kecamatan Wulandoni, malah sudah mulai melakukan pengolahan tepung sorgum untuk pembuatan berbagai jenis makanan. Kelompok ini bahkan mendapat bantuan mesin penepung, dari Yaspensel Keuskupan Larantuka.

Dengan mesin penepung itu, biji sorgum bisa digiling menjadi tepung dan siap menjadi bahan pembuat kue. Tepung sorgum menggantikan terigu dan menjadi salah satu kebutuhan pangan rumah tangga.

Reporter: ABK