Pengolahan Ikan Jadi Prioritas BLK Caritas Peduli Lembata

Kepala BLK Caritas Peduli, Suster Margareta SSpS bersama peserta diklat di BLK
Kepala BLK Caritas Peduli, Suster Margareta SSpS bersama peserta diklat di BLK

LEMBATA, SURYAFLOBAMORA.COM- Potensi ikan di perairan seputar pulau Lembata Kabupaten Lembata menjadI fokus bidikan Balai Latihan Kerja (BLK) Caritas Peduli asuhan suster-suster SSpS. Lembaga diklat yang telah beroperasi sejak 30 Oktober 2019 ini, memprioritaskan pengolahan makanan berbahan baku ikan hasil tangkapan nelayan Lembata. Dan pengolahan ikan Lembata menjadi agenda pembelajaran bagi peserta pelatihan di BLK yang bernaung dibawah Yayasan Gunthild Caritas Peduli ini.

Kepala BLK Caritas Peduli, Suster Margareta SSpS saat ditemui di BLK Rabu (29/07) mengatakan, ikan Lembata menjadi fokus pelatihan pengolahan makanan bagi warga peserta diklat di BLK, karena.melihat potensi ikan Lembata yang cukup banyak dan kandungam nutrisi ikan yang cocok.jadi asupan nutrisi masyarakat.

“Lembata ini sebuah pulau. Dikelilingi lautan. Dan potensi ikannya sangat banyak. Kami pertimbangkan bahwa selama ini, konsumsi ikan masih dengan pengolahan yang sederhana saja. Makanya, pengelolaan ikan kami jadikan materi diklat utama bagi peserta di BLK ini. Jadi untuk bidang keahlian pengolahan makanan, kami fokuskan kuliner berbahan baku ikan,” ungkap Suster Margareta.

BLK Caritas Peduli terletak di Desa Pada Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata. Lembaga ini sudah mengantongi izin operasional dari pemerintah Lembata. Namun aktivitas belajar dilakukan di rumah warga yang dipinjamkan sementara sebagai BLK, sembari menunggu pengerjaan bangunan BLK di sebuah bukit yang terletak di sebelah barat Desa Pada.

Sejumlah ibu dan remaja putri di Desa Pada sudah tiga bulan belajar tentang pengolahan ikan. Produk unggulan dalam pembelajaran adalah pentolan ikan, abon ikan dan sate ikan.
Dan ikan yang menjadi bahan dasar olahan di BLK adalah ikan Cakalang atau ekor kuning atau ikan lain yang berdaging putih.

“Kalau mau dapat hasil yang berkualitas, memang tidak boleh sembarang ikan. Bagusnya ikan dasar, yang dagingnya putih. Itu akan menghasilkan pentolan atau abon dengan warna yang menarik,” papar Suster Margareta, SSpS.

Melimpahnya ikan di Lembata ternyata belum sebanding dengan nilai ekonomis ikan-ikan tersebut. Bahkan untuk beberapa jenis ikan seperti cakalang atau tuna, harga jualnya lebih tinggi justru di luar Lembata. Masyarakat Lembata mayoritas mengkonsumsi ikan dengan model olahan konvensional seperti langsung digoreng atau ikan kuah asam.

“Makanya sebaiknya masyarakat tahu tentang mengolah ikan iti bagaimana. Kalau dijadikan pentolan, dibikin sate atau jadi abon. Kan nilai ekonomisnya naik. Terbukti hari ini hasil olahan semua habis dibeli. Pak Gubernur datang dan ada banyak orang, mereka sudah beli semua,”ungkap Suster Margareta puas.

Rabu pagi (29/07), BLK Caritas Peduli memang dikunjungi Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat. Sejumlah besar oramg termasuk rombongan bupati Lembata ikut hadir. Sesi kunjungan gubernur untuk.memantau galeri.produk BLK Caritas Peduli justru berbuah manis. Sekitar 90-an kemasan pentolan ikan dan abon ikan yang dibandrol pada kisaran Rp 10-20 ribu habis terjual.

“Saya sudah ikut pelatihan ini selama tiga bulan. Awalnya saya tahu karena pas saya harus cuti kuliah dan kembali ke rumah karena covid ini. Karena ada pelatihan yang dibuka di BLK ini maka saya ikut. Saya sudah tahu buat pentolan dan abon. Tapi saya rencana akan buat pentolan. Supaya saya mau jual bakso,”ungkap Ivin.

Ivin atau Yosefina Bunga adalah salah satu peserta diklat di BLK khusus dalam urusan pengolahan makanan berbahan dasar ikan. Remaja perempuan kelahiran 1997 ini mengaku, penyuka bakso. IaP yakin warga Lembata juga banyak yang meminati bakso.

“Saya yakin orang Lembata khususnya di Lewoleba ini suka makan bakso. Makanya saya mau kembangkan usaha bakso. Saya juga suka makan bakso. Sekalian cari uang juga,” papar Ivin optimis. (ABK)