Video: Lamalera dan Laut di Tempo Doeloe

Nelayan Tradisional Lamalera Lembata
Nelayan Tradisional Lamalera Lembata


LEMBATA, SURYAFLOBAMORA.COM- Laut adalah jalan yang menghubungkan kita satu dengan yang lain, laut adalah kisah kita yang tak berujung, laut adalah metafora tentang kita yang paling kuat, lautan ada di dalam kita (Epeli Hauofa, 1948).

Lamalera, sebuah komunitas nelayan di pesisir pantai selatan Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, sudah sejak lama terkenal dengan tradisi ola nuâ (tradisi mengolah laut). Menurut catatan sejarah, tradisi ola nuâ dibawa leluhur Lamalera bersamaan dengan eksodus mereka dari Luwuk, Sulawesi, abad ke-14. Hingga saat ini tradisi itu dihidupi dan dimaknai orang Lamalera sebagai warisan yang amat luhur dan bernilai.

Sebagai warisan yang luhur dan bernilai, ola nuâ telah mengental dengan dan dalam seluruh dimensi hidup orang Lamalera. Karena itu, ola nuâ turut pula menjelaskan serta mendefinisikan eksistensi orang Lamalera, termasuk di dalamnya cara pandang tentang laut, dan cara hidup mereka berkenaan dengan laut.

Berbeda dari kebanyakan masyarakat pesisir lain, orang Lamalera memandang laut sebagai “Ibu” yang melahirkan, membesarkan, melindungi, dan selalu memberi mereka hidup. Hal ini bisa ditelaah dalam syair Lamalera berikut ini: sedo basa hari lolo/jaji pulo boi lema ropong/hode one sare/memu tao yone dike, ‘Oh ibunda lautan/engkau mengandung, melahirkan/memelihara dan menyimpan segala-galanya ‘tuk kami’.

Personifikasi atas laut sebagai sedo basa hari lolo ini dihayati atau lebih tepatnya diimani dalam seluruh pengalaman hidup, tidak hanya dalam hubungannya dengan laut itu sendiri, tetapi lebih dari itu tercermin dalam relasi dengan semesta dan Wujud Tertinggi. Serupa laut yang merangkul seluruh kehidupan, iman dan penghayatan itu membersitkan suatu imperatif etis bagi orang Lamalera untuk juga memandang dan memperlakukan apa dan siapa pun sebagai bagian dari dirinya.

Dan spirit yang menghidupkan tradisi ini selalu diucapkan dan dimaknai dalam sair
“Ama gene ola, ola kae kode kai” arti sederhananya, Ini adalah warisan ayah/nenek moyangku, apapun harus dilanjutkan atau diteruskan.

Editor: Alvin Lamaberaf