Lipus Panda, Uang Saku dan Kuliah ‘Asal Jadi’

Facebook
Twitter
Pinterest
WhatsApp
Pater Dr. Philipus Panda, SVD

DATUKELI, SURYAFLOBAMORA.COM- Dalam suatu kesempatan kuliah FILSAFAT KOMUNIKASI, pada tahun 2003, di ruang kuliah Filsofan. Dosen (lupa namanya) berbicara panjang lebar tentang sepak terjangnya dalam dunia komunikasi. Sebagai informasi, pembicaraan itu memelekkan mata. Tapi sebagai kuliah, itu amat jauh panggang dari api: tumpang tindih, tak tahu mana pangkal, mana ujungnya.

Di ujung pembicaraan, sang dosen mewajibkan kami para mahasiswa untuk beli diktat seharga 12.000 (dua belas ribu), yang sudah disiapkan di sekretariat. Pewajiban ini rasanya seperti pedang mengiris jantung kami. Diktat seharga 12 ribu, sementara uang saku kami sebulan hanya 15,000 (Dengan uang segini kami dilatih menghayati kaul kemiskinan). Bagaimana diktat ini bisa terbeli, kalau dari uang saku segitu, kami harus juga penuhi kebutuhan lain? Ya, tapi apa boleh buat. Ini wajib hukumnya!Di satu sisi, demi kaul kemiskinan, kami harus kencangkan ikat pinggang, dan di sisi yang lain, demi kuliah, kami toh harus miliki diktat.

Tapi soal tak berhenti dengan soal mamon itu. Kurang lebih seminggu membaca diktat itu, rasanya pedang juga masih mengiris iris jantung kami. Diktat hanyalah kompilasi dari guntingan kliping koran dan halaman buku, lalu ditambah sedikit saja komentar sang dosen. Mengecewakan! Dan saya, salah satu mahasiswa, dari bangku kuliah paling belakang bangun dan protes, menguraikan satu demi satu mulai dari harga 12 ribu sampai pada hal isi:”kalau diktat disiapkan seperti ini, lebih baik kasih kami list buku buku referensi dan kami baca.Selesai! Diktat macam Ini buang uang, buang juga energi”.

Ya, untuk protes macam itu, saya sudah amat siap terima resiko: bagi dosen yang baperan, saya pasti ditunggu di bok (nilai akhir: sudah tentu bukan A). Tapi bagi dosen yang obyektif dan cerdas, suara saya serupa cemeti untuk kuda tua yang gampang lengah oleh perasaan senioritas (sebagai dosen). Dan entah ini bok atau memang karena saya kurang cerdas, saya akhirnya tidak bisa menuai nilai A untuk FILSAFAT KOMUNIKASI.

Tapi soalnya memang bukan pada A atau B, tapi soalnya ada pada kuliah, ada pada kesungguhan dosen menyiapkan diri untuk kuliah: entah dengan diktat, entah tidak perlu diktat. Dan tentang ini, kuliah Lipus Panda,selalu saya tempatkan sebagai referensi. Untuk kasus pertama tadi, saya seolah dihantar ke belantara tanpa cahaya, tapi untuk kuliah Lipus, saya seolah dituntun bintang hingga menemukan Bethlehem. Sehari tak hadiri kuliah Lipus, rasanya sedang di jalan sesat, tak tahu nyambung ke mana ketika nanti hadir pada kesempatan berikutnya. Itu sebabnya, banyak dari antara kami atau mungkin semua selalu berdecak kagum pada Lipus ketika di akhir kuliah: “Kalau semua dosen ajar sistematis dan mendalam macam begini, kita pintar semua kah”.

Lipus memang beda! Barangkali tak tergantikan. Kalau pun tergantikan, butuh waktu yang amat panjang. Di tengah perkembangan sains dan teknologi yang mencengangkan,seorang dosen tak bisa anggap diri tahu segala dan merasa nyaman seolah gelar akademik sudah menjamin isi kepala. Dia harus sadar benar bahwa mahasiswa juga tahu banyak hal, dan karena itu dia harus siap baik baik untuk kuliahnya. Tanpa kesiapan yang cukup, bawaannya “baper”, mudah tersinggung kalau dikritik. Lipus tidak pada ranah ini. Dengan basis filsafat yang kokoh, Lipus seolah menyeret kami sampai pada hal “sosiologi rasa filsafat”. Sebagai mahasiswa filsafat waktu itu, rasanya kuliah sosiologi Lipus menggedor kesadaran kami bahwa kuliah sosiologi dengan basis filsafat yang kokoh sungguh membuat kami benar masuk ke kedalaman.

Seperti apa kesiapan?Di depan kelas Lipus mengajar amat sistematis, tanpa BUKU atau diktat, meski dia siapkan diktat untuk para mahasiswa.Sistematis, meski tanpa buku?Bukankah masih banyak dosen yang baca dari buku dan mahasiswa harus catat? Bukankah masih banyak dosen dimanjakan dengan in focus, lalu kalau sudah ditayangkan baru putar sana putar sini beri penjelasan? Lipus mengajar dengan kelisanan yang amat ketat seperti orator ulung yang dipenuhi Roh!

Hal yang sama ini pun saya temukan pada Pater BUDI KLEDEN. Amat siap: ajar tanpa buku, sistematis. Beda Budi dengan Lipus itu ada pada rumusan. Budi selalu omong panjang panjang dengan kata kata indah, sedangkan Lipus amat ekonomis. Ribut pada Lipus bisa diungkapkan Budi secara lain: ” Memecah kesunyian”. Tapi soal kesiapan untuk memberikan kuliah, dua dosen ini terbilang OK.

Kesiapan untuk kuliah ini tak bisa terukur secara sederhana dari penampilan fisik, casing doang! Lipus, saya sudah katakan, serupa Papalele dari Detukeli, Budi mirip mirip dengan kepala sekolah SD di pedalaman Lembata. Tapi saat memberikan kuliah, amazing! Beda dan impresif!

Karena itu, sejak Budi hijrah ke Roma, Ledalero kehilangan. Dan sejak Lipus jatuh sakit dan akhirnya mati, saya harus katakan juga “Ledalero kehilangan”

Saya masih saja sedih sampai saat ini karena kematian Lipus.Masih sedih karena kami, kita sungguh sungguh kehilangan. Kalau itu bukan mutiara, saya akan bilang ” lebih baik cepat mati daripada susahkan banyak mahasiswa” . Tapi ini mutiara, yang barangkali kemilaunya tak banyak ditemukan di jaman now, pada mereka di depan kelas.

Rest in Peace Lipus! Seuntai doa dari muridmu yang masih berjuang jadi MUTIARA!

Penulis: Charles Beraf