Rindu Mengenyam Bangku Sekolah, Bocah Lumpuh di Manggarai Timur Minta Tongkat Kruk

Engel, bocah perempuan berusia 10 tahun asal Lamba, Desa Golo Nderu, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur (foto: Yaflin Lehot)
Engel, bocah perempuan berusia 10 tahun asal Lamba, Desa Golo Nderu, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur (foto: Yaflin Lehot)

BORONG, SURYA FLOBAMORA.COM- Engel, seorang bocah perempuan berusia 10 tahun asal Lamba, Desa Golo Nderu, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, melalui orang tuanya meminta bantuan kepada berbagai pihak untuk membelikannya sebuah Tongkat Kruk. Keinginan yang kuat untuk bersekolah telah membuat orang tuanya ikut merasa terenyuh mendengar permintaan Engel yang lumpuh dan tak bisa berjalan dengan normal.

Siska, sang ibu mengisahkan, awalnya ia dan suami tak menyangka bahwa anaknya bakal menjadi lumpuh seperti sekarang. Pada saat usia Engel memasuki enam bulan, dirinya mulai menyadari kelainan fisik pada diri buah hatinya.

“Anak saya tidak dapat duduk dengan sempurna. Saya bingung dan ketakutan sekali,” ujar Siska.

Tidak seberuntung anak seusianya, Engel harus menghabiskan waktu setiap hari di rumah. Keinginannya untuk sekolah pun ia pendam. Demikan pengakuan sang ibu.

Siska mengatakan, Engel kalau duduk selalu merentangkan kaki.

“Tapi waktu itu, saya belum benar-benar sadar kalau ada yang aneh dengan saya punya anak,” cerita Siska.

Sejak itu, dirinya mulai khawatir karena Engel tak kunjung berdiri dan jalan seperti anak-anak pada umumnya di usia 1 (satu) tahun. Sempat terpikir bahwa kondisi anaknya akan baik-baik saja.

Kata Siska, Engel sempat dirujuk ke RSUD Ruteng saat berumur 2 (dua) tahun, tetapi dokter justru tidak menemukan ciri-ciri kelumpuhan pada kaki Engel dan menyarankan orangtua Engel untuk melakukan pengobatan alternatif di kampung.

Sekilas, kaki Engel memang terlihat baik-baik saja dan tampak normal. Namun ketika berdiri, ia membutuhkan tumpuan atau harus bersandar pada dinding sekitarnya. Tumit kaki kanannya sangat kaku, sehingga tidak dapat menyentuh tanah.

“Ini kaki yang dia rasa paling sakit,” kata Ardi, sang Ayah sambil menunjukkan kaki kanan Enjel.

Untuk mandi dan aktivitas lain di dalam rumah, Engel harus digotong oleh orang tuanya atau memanfaatkan kedua tangannya merangkak, sebagai pengganti kaki.

Kini, Engel yang sudah berusia 10 tahun itu bertekad sekolah. Sayangnya, ayah dan ibunya kesulitan membelikan tongkat penyangga atau kruk baginya. Engel sendiri memiliki impian agar dapat belajar bersama teman-temannya di sekolah, tetapi kondisi Engel yang kesulitan berjalan, membuat orangtuanya cukup ragu untuk mendaftarkan putrinya itu ke sekolah dasar, apalagi jarak antara rumah dan sekolah cukup jauh.

Ayah dan ibunya pun mengharapkan uluran tangan berbagai pihak untuk bisa memberikan tongkat kruk untuk anaknya.

Penulis/Editor: Ama Ola S