Warga Lewoleba Keluhkan Air Bersih, PDAM Lembata Bebas Jual Air

LEMBATA, SURYAFLOBAMORA.COM- Sejumlah warga Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengeluhkan kekurangan air bersih. Sementara Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Lembata, setiap hari bebas menjual air bersih di belasan mobil tangki.

Seperti pantauan Suryaflobamora.com, sejumlah mobil tangki tersebut, antrian dan bergantian mengisi air bersih di tandon air bersih PDAM Wangatoa Lewoleba, yang lokasinya tidak jauh dari Panti Asuhan.

Kata warga setempat, PDAM setiap hari menjual air bersih Rp 25 ribu per tangki. Setelah itu, mobil-mobil tanki tersebut, kembali menjual air bersih ke warga yang membutuhkan.

“Air bersih sangat kurang. Kita butuh air setiap hari karena air PDAM dibuka tidak setiap hari. Tetapi PDAM malah lebih fokus menjual air daripada penuhi kebutuhan air kami warga Lewoleba,” ungkap Yan Labi, Minggu (15/11).

Katanya, air bersih yang dijual menggunakan mobil tangki ke warga, harganya fariatif, mulai dari Rp 125 ribu sampai Rp 200 ribu sesuai jarak tempuh per wilayah.

“Tidak jadi soal menjual air tetapi pelayanan kebutuhan air bagi warga yang menggunakan air bersih diutamakan. Itu yang harus jadi perhatian PDAM,” kata Yani.

Hal lainnya disampaikan Yaty dan beberapa warga Rayuan Kelapa dan Berdikari. Mereka mengeluhkan bahwa selama ini, air bersih dari PDAM sangat kurang. Bahkan sering tidak dialiri air berhari-hari. Ada juga jaringan perpipaan ke rumah warga rusak atau macet. Namun ketika dilaporkan berulang-ulang kali, baru dapat ditanggapi pihak PDAM.

“PDAM bebas jual air, kami di sini air susah bahkan tidak keluar berhari-hari. Kita sudah lapor tapi sama saja, tidak cepat respon. Giliran bayar meteran, cepat sekali. Managemennya atau orang yang urus ini air diganti saja. 20 tahun otonomi tetapi kita tetap keluh kurang air. Untung masih ada sumur,” ungkap Yaty diamini warga lainnya.

Sementara Anggota DPRD Lembata, Yoseph Boli Muda mengatakan, PDAM harus mengutamakan warga yang mengonsumsi air bersih dari PDAM. Bukan mengutamakan para penyalur atau penjual air mobil tangki.

“Warga yang konsumsi air PDAM itu yang utama. Jangan hanya dibisniskan saja. Saya bisa menduga ada kepentingan orang-orang tertentu. Kalau bisa pakai jadwal dan dihitung kubikasi agar tidak dijual bebas. Semoga semua bisa diatur baik-baik, jangan uangnya masuk kantong oknum tertentu,” kata Boli Muda.

Anggota DPRD PKB itu mengatakan, hal ini akan menjadi atensi DPRD untuk bisa mengawasi dan mengetahui pelayanan air bersih bagi warga dan seberapa besar pendapatan yang telah diperoleh.

“PDAM ini perlu jadi perhatian karena menyangkut pelayanan publik. PDAM harus menjawabi kebutuhan air bagi warga. Kalau jual pun harus diatur. Jangan asal jual dan uangnya pun tidak jelas. Kita akan cek,” kata Boli Muda.

Editor: Alvin Lamaberaf