Lembata 21 Tahun Otonomi, Pedagang di Pasar Pada Jualan di Jalan Tanah

Pasar Pada Lewoleba Kabupaten Lembata (Foto: Alvin Lamaberaf)
Pasar Pada Lewoleba Kabupaten Lembata

LEMBATA, SURYAFLOBAMORA.COM- Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah 21 tahun merayakan ulang tahun otonomi 12 Oktober 2020.

Berbagai hal terkait pembangunan di Lembata, memantik tanggapan sejumlah pihak, yang melihat dan merasakan bahwa pembangunan di Lembata belum menjawabi kebutuhan masyarakat.

Seperti terlihat di Pasar Rakyat Pada Lewoleba. Ratusan pedagang berjualan di jalan tanah pelataran pasar. Para pedagang menjajahkan barang dagangannya di tanah beralaskan kain dan karung. Pasalnya, tidak ada tempat yang disiapkan untuk meletakkan barang dagangannya. Ubi, pisang, sayur, lombok, tomat, jeruk, kacang, ikan kering, garam, beras dan hasil bumi lainnya dibiarkan saja di jalan tanah.

“Tidak ada tempat jadi kami jualan di sini. Kami mau jual di mana? Pemerintah sudah bangun gedung baru itu tapi kami belum bisa pakai. Lapak yang dibangun di gedung baru itu juga kecil sekali. Kita ini tiap tahun mau 21 tahun ini, sama saja dan begini terus,” ungkap Mama Ana Ose, Pedagang Ubi, Senin (12/10/2020).

Mama Lipat pun mengeluhkan hal yang sama. Katanya, setiap kali berjualan di Pasar Pada selalu membayar retribusi kepada petugas Dinas Koprindag. Tetapi dirinya tetap jualan di atas tanah. Pisang, Ubi, Kacang dan semua jualan miliknya sudah bertahun lamanya diletakan di tanah beralaskan sehelai kain.

“Saya jual taruh di atas tanah alas kain, tapi saya bayar retribusi. Barang belum laku, petugas sudah tagih. Saya tetap bayar, kalau tidak bayar nanti saya jual di mana. Kapan e ama mereka bangun tempat yang baik buat kami. Setiap tahun ‘snamangen’ (sama saja),” kata Mama Lipat.

Hal serupa disampaikan sejumlah pedagang. Dan mereka merasa, pembangunan di Lembata belum menyentuh kebutuhan masyarakat banyak.