RT Sigap Bisa Jadi Alternatif Tekan Covid-19 Sumba Timur Selain PPKM

Warga terjaring operasi masker di Sumba Timur
Warga terjaring operasi masker di Sumba Timur

SUMBA, SURYAFLOBAMORA.COM-
Kasus Covid-19 di Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, terus meningkat.

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), dianggap tidak manjur untuk menekan jumlah kasus Covid-19.

Pasalnya, sesuai data pada Posko Percepatan Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sumba Timur, total kasus Covid-19 di Sumba Timur per tanggal 22 Pebruari 2021, mencapai 440 kasus.

Rinciannya; pasien dalam perawatan 109 orang, pasien yang sudah dinyatakan sembuh 316 dan pasien yang meninggal dunia 15 orang, termasuk penambahan 1 (satu) orang dari Kecamatan Waingapu yang meninggal Senin 22 Pebruari 2021 kemarin.

Sehingga perlu alternatif lain selain PPKM, untuk menekan peningkatan kasus Covid-19 di Sumba Timur.

 
Anggota DPRD Kabupaten Sumba Timur Partai NasDem, Yonathan Hani menilai, penerapan PPKM di Sumba Timur, tampaknya kurang efektif. Bukan saja dari penambahan kasus, namun juga terlihat dari aktivitas masyarakat yang tidak berkurang, sehingga penerapan PPKM tidak berdampak.

Sebagai DPRD, Yonathan sangat berharap ada tindakan nyata di masyarakat mengenai penerapan PPKM tersebut. Bukan dimaknai sebatas edaran/aturan tanpa penegasan.
 
“Penerapan PPKM di Sumba Timur, kurang efektif. Kasus Covid-19 terus bertambah. Aktivitas masyarakat masih sangat normal. Ini perlu ada penegasan dari pihak Satgas, agar penerapan PPKM dapat efektif, atau mungkin alternative lain selain penerapan PPKM”, jelas Yonathan, Senin (22/2/2021) kemarin.
 
Menurut Yonathan, perlu adanya koordinasi antara Kecamatan, Kelurahan – RT/RW untuk menjaga lingkungan atau warganya masing-masing. Dan jika perlu di hari Sabtu dan Minggu ditetapkan sebagai hari tanpa aktivitas diluar rumah (LockDown). Atau secara masif dilakukan pembatasan secara ketat aktivitas warga selama 1-2 minggu khusus wilayah/ kecamatan dengan tingkat penyebaran kasus Covid-19 tertinggi.
  
“Ini harus ada koordinasi antara semua pihak dari tingkat atas sampai tingkat RT/RW untuk secara detail mendata serta mengawasi warganya secara baik. Pembatasan aktivitas masyarakat harus ketat, sehingga penerpan PPKM bisa efektif dan kasus Covid-19 dapat terkendali dengan baik,” tegasnya.
 
Sementara, Wakil Ketua Satgas Covid-19 kabupaten Sumba Timur, Letkol Czi. Dr. Dwi Joko Siswanto, S.E, M.I Pol mengatakan, PPKM tetap manjur dalam menekan angka peningkatan kasus Covid-19, meskipun tetap terjadi peningkatan yang signifikan.

Namun yang menjadi masalah, adalah bagaimana cara menerapkannya, apakah sudah terukur dan dilakukan secara masiv atau tidak.
 
“Secara kasat mata tidak menekan angka kasus, namun PPKM tetap manjur. Jadi masalah penting saat ini adalah cara kita menerapkannya,” kata Joko Siswanto.
 
Menurut Dandim Sumba Timur itu, pihaknya memiliki ide. Selain penerapan PPKM, harus dilakukan pembentukan RT SIGAP, yaitu pembentukan penanganan Covid-19 sampai ke level RT. Dengan adanya RT Sigap tersebut, diyakini secara pasti dan detail dapat mengetahui data keluar masuknya setiap warga dan tracing akan lebih mudah dilakukan.
 
Selain itu juga, RT memiliki tanggung jawab untuk mendata warganya serta mengetahui setiap keadaan dan kondisi warganya sendiri. Sehingga ini menjadi solusi yang sangat konkret yang harus diterapkan. Sinergitas antara Babinsa, Bhabinkamtibmas, tenaga medis dan relawan akan terlihat dan terjalin secara nyata dalam penangan kasus Covid-19 tersebut.
 
“RT mempunyai peran yang sangat penting, mendata setiap warganya yang keluar masuk. Penanganannya harus dari tingkat yang paling bawah, sehingga sangat cocok pembentukan RT Sigap dalam menekan angka kasus Covid-19 di Sumba TImur,” tegas Joko Siswanto.
 
Untuk pembentukan RT Sigap tersebut, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan semua pihak, agar pembentukan ini benar-benar di terapkan dan akan menjadi solusi dalam penanganan kasus Covid-19 di Kabupaten Sumba Timur.

“Kita akan koordinasi dengan semua pihak. Dan penerapan RT Sigap ini, akan dimulai dari wilayah yang dikategorikan Zona Merah,” pungkasnya.
 
Reporter: Nona Prailiang

Editor: Alvin Lamaberaf