Marthen Kilok: Lebih Buruk Bupati Thomas Daripada Yantje

Marthen Kilok
Marthen Kilok

LEMBATA, SURYAFLOBAMORA- Masa kepemimpinan Bupati Lembata, Dr. Thomas Ola Langoday sesaat lagi berakhir. Napak kinerja belum menampakan bukti kerja nyata seperti yang diharapkan publik di santero Lembata.

Pembangunan Infrastruktur jalan seperti yang diimpikannya masih belum terlihat, reformasi birokrasi berjalan tak tentu arah, bahkan menuai soal beraroma kolusi dan nepotisme. Perubahan seperti dikampanyekan hingga saat ini belum memberikan bukti nyata. Dan semua hanya sebatas seremonial belaka.

Hal ini memantik respon warga diaspora Lembata Jakarta, Tokoh Muda Marthen Kilok.

Kata Marthen, pembangunan di Lembata belum menunjukan progres yang luar biasa diawal hingga penghujung masa jabatan Thomas Langoday.

Publik Lembata tentu mengharapkan sebuah perubahan yang luar biasa, ketika Thomas secara definitif ditetapkan sebagai Bupati Lembata.

Dari aspek pembangunan infrastruktur yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat Lembata dan menjadi problem sosial yang dikeluhkan berulang disetiap pergantian estafet kepemimpinan Lembata, belum berjalan optimal seperti yang diharapkan dan dijanjikan Thomas Langoday.

“Saya amati sepanjang ini belum ada kinerja konkret yang menjawab persoalan ini. Bagaimana Pak Thomas bisa mewujudkan visi dan misinya. Sementara disisi lain akselerasi pembangunan terutama infrastruktur berjalan di tempat bahkan jauh lebih buruk dari sebelumnya. Tidak ada skala prioritas dan perencanaan baik dalam pembangunan. Saya bahkan mendengar dari orang Lembata yang saya temui, bahwa Bupati Thomas jauh lebih buruk dari almarhum Bupati Yantje,” kata Marthen Kilok.

Sementara itu dari sisi reformasi birokrasi, belum ada pembenahan sistem birokrasi secara komprehensif dalam mewujudkan Clean and Good Governance.

Marthen mempertanyakan, apakah dalam konteks mutasi jabatan dalam birokrasi, Bupati Thomas menggunakan kajian Tim Baperjakat atau berdasarkan faktor suka atau tidak suka?