Dalam Sepekan Tiga Orang Bunuh Diri di Kabupaten Lembata

Psikolog Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Abdi keraf, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog
Psikolog Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Abdi keraf, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog

KUPANG, SURYAFLOBAMORA.COM- Dalam satu pekan terakhir, masyarakat Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dikejutkan dengan kasus bunuh diri. Dan sudah 3 (tiga) orang, yang telah mengakhiri hidup dengan sadis, membunuh dirinya.

Peristiwa itu sungguh menyayat hati sanak keluarga, kerabat, sahabat dan kenalan para korban bunuh diri. Tidak diduga sebelumnya, para korban membunuh diri dengan cara menggantung diri dan minum obat (over dosis).

Hal itu memantik respon Psikolog Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Abdi keraf, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog.

Dosen dan Ketua Program Studi Psikologi FKM Undana itu mengatakan, “Kesejahteraan psikologi menjadi kunci penangkal bunuh diri”.

Psikolog Abdi Keraf menjelaskan, banyak kasus bunuh diri yang terjadi di Provinsi NTT dalam beberapa tahun terakhir, tentu perlahan menjadi fenomena yang semakin mengkhawatirkan.

Pasalnya, secara tidak langsung menunjukkan bahwa perkembangan aspek mental/psikologis masyarakat kita, setidaknya sedikit mengkwatirkan terutama pada kelompok-kelompok usia tertentu atau bahkan pada tingkat sosial masyarakat tertentu.

“Memang hal ini masih harus dikaji lebih jauh secara empiris. Namun dalam beberapa kasus yang terjadi, cenderung pada kelompok usia muda (dewasa awal) pada kisaran 18-40 tahun,” kata Abdi Keraf, Senin (16/11/2020).

Menurut Abdi Keraf, secara psikologis, pelaku bunuh diri cenderung menciptakan sebuah jalan termudah untuk keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi dengan cara menghilangkan nyawa sendiri atau bunuh diri.

Para pelaku bunuh diri, biasanya meyakini bahwa tidak ada harapan atau “jalan keluar terbaik” selain dengan menghilangkan nyawa sendiri sebagai bentuk keputus-asaan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Para pelaku, tentu dalam kondisi terakhir, benar-benar merasakan kehilangan harapan, patah semangat, tidak punya gairah lagi, dan tak sanggup memikul beban hidup (masalah yang sedang dihadapi, dsb). Sehingga mengakhiri hidupnya sendiri adalah pilihan yang paling akhir, sebagai bentuk ketakberdayaan atau ketidaksanggupan diri dalam menyelesaikan masalah, serta menghadapi konsekuensi-konsekuensi dari masalah yang sedang dihadapi.

“Para pelaku bunuh diri, biasanya sampai pada kesimpulan akhir, bahwa mengakhiri hidupnya, atau mencabut “hak hidup dirinya sendiri”, adalah suatu “jalan keluar” terakhir. Agar dapat membebaskan dirinya dari semua kesulitan-kesulitan hidup atau permasalahan yang sedang dihadapi,” katanya.

Lanjut Abdi Keraf, dalam keadaan seperti ini, para pelaku bunuh diri, cenderung berada pada kondisi psikologi yang benar-benar terguncang.

Stres tingkat tinggi yang menyebabkan terjadinya depresi (perasaan cemas dan tertekan yang sangat hebat), apalagi jika dipicu oleh adanya distorsi mental yang parah, yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan mental, seperti zchisophrenia, tentunya dapat mempengaruhi keputusan untuk bunuh diri.

NEXT: Depresi Berkepanjangan