Delapan Oknum TNI Koramil Lewoleba Bakal Dilaporkan LBH SIKAP ke POM Ende

Emanueal Belida Wahon, SH selaku Sekretaris Lembaga Bantuan Hukum (LBH) SIKAP
Emanueal Belida Wahon, SH selaku Sekretaris Lembaga Bantuan Hukum (LBH) SIKAP

LEMBATA, SURYAFLOBAMORA.COM- Enam oknum TNI AD Koramil Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), bakal dilaporkan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) SIKAP ke Polisi Militer (POM) Ende.

Laporan itu terkait penganiayaan yang dilakukan terhadap warga sipil atasnama Anso Lamabelawa (22), dihadapan Danramil 1624/03 Lewoleba, Mayor Chb Ikhsan, oleh sejumlah oknum TNI AD di Markas Koramil Lewoleba, Minggu (8/11). t

Emanueal Belida Wahon, SH selaku Sekretaris Lembaga Bantuan Hukum (LBH) SIKAP menegaskan, masalah penganiayaan oleh anggota TNI AD di markas Koramil Lewoleba Minggu malam itu, telah ditangani pihaknya.

“Kita koordinasi dengan jajaran Kodim untuk pengembangan seperti apa. Kita akan ajukan laporan resmi ke POM Ende,” kata Belida Wahon.

Sebelumnya LBH SIKAP Lembata juga telah mendesak Kepala Staf Angkatan Darat untuk mencopot DANRAMIL 1624/03 Lewoleba.

LBH SIKAP menilai, tindakan alat Negara atas nama Negara, wajib hukumnya berlandaskan hukum. Jika tidak, maka dikategorikan premanisme, melanggar hukum. Terhadap tindakan tersebut, wajib dipertanggungjawabkan di mata hukum, tanpa kecuali.

Apalagi penganiayaan ini dilakukan oleh Oknum Anggota TNI di hadapan Danramil terhadap warga masyarakat sipil. Dimana korban dianiaya di pinggir jalan, dibawa secara paksa layaknya diculik ke kantor Koramil Lewoleba lalu dikeroyok ramai-ramai.

Menurut LBH SIKAP, ini perilaku preman dan oknum yang mencederai institusi Angkatan Darat khususnya. Sehingga pihaknya akan menindaklanjuti dengan pengaduan resmi kepada pihak Polisi Militer untuk diproses secara hukum yang berlaku, agar menjadi pelajaran buat semua orang.

Marsel Pepak selaku ayah korban yang melihat langsung penganiayaan terhadap anaknya, tak tega melihat kejadian itu.

“Orangtua mana yang tega melihat anak sendiri dianiaya begitu. Hati saya sakit sekali,” ungkapnya Selasa (10/11).

Katanya, kejadian penganiayaan ini terjadi di tempat pesta syukuran anggota baru TNI AD, pada Sabtu (07/11).

Anso anaknya hadir saat itu karena berteman dengan anggota TNI baru tersebut, sejak kecil dan kemungkinan dipicu mabuk minuman keras sehingga terjadi perkelahian.

“Di tempat pesta malam itu mereka sudah selesaikan. Tapi besoknya Anso dijemput tanpa sepengetahuan kami orangtua,” tuturnya.

Insiden perkelahian ini ternyata berlanjut hingga Anso dibawa ke Markas Koramil Lewoleba pada Minggu malam dan dianiaya di hadapan Danramil 1624/03 Lewoleba, Mayor Chb Ikhsan.

Penganiayaan ini pun disaksikan sendiri oleh Marsel yang langsung datang ke Markas Koramil Lewoleba, setelah mengatahui anaknya dibawa ke Markas Koramil Lewoleba.

“Kalau kami tidak ikut ke sana maka kami tidak tahu lagi anak kami jadi apa. Sekitar pukul 23.00 Wita, saya bawa Anso pulang ke rumah dan telinganya sedang keluar darah, wajah lebam, sesak napas dan rasa sakit pada bagian tulang rusuk”, ujarnya.

Sementara Danramil 1624/03 Lewoleba Mayor Chb Ihsan, kepada wartawan mengatakan, peristiwa yang terjadi pada Minggu malam di markasnya, bertujuan mulia, yakni melakukan pembinaan terhadap masyarakat yang melakukan tindakan yang berdampak pada ketertiban.

Mayor Ihsan mengaku, anggota TNI yang terlibat dalam penganiayaan, telah diberi pembinaan.

“Kepada pihak keluarga, kami juga sudah sampaikan permohonan maaf baik secara pribadi maupun institusi atas kekeliruan ini. Anggota kami juga harus diberi pembinaan,” katanya.

Lanjutnya, pembinaan yang diberikan kepada para anggota TNI AD tersebut berupa teguran dan kemudian dibina, juga melakukan pendekatan secara kekeluargaan.

Ihsan berharap, dengan pendekatan ini dapat terbangun berkomunikasi sehingga ke depan kejadian ini tidak berlanjut.

Editor: Alvin Lamaberaf