Menjadi Penggarap Tahu Diri (Refleksi 100 tahun SVD di Lembata)

Gereja Katolik St. Petrus Paulus Lamalera Lembata
Gereja Katolik St. Petrus Paulus Lamalera Lembata

Menjadi Penggarap Tahu Diri
(Refleksi 100 tahun SVD di Lembata)

P. Steph Witin, SVD
Minggu Biasa XXVII-A
Yes 25:6-10a;
Flp 4:12-14;
Mat 22:1-14

Nabi Yesaya melukiskan keajaiban Tuhan menciptakan kebun anggur. Para ahli agama Yahudi selalu menggunakan sebutan “kebun anggur” sebagai kiasan bagi Israel. Kebun anggur dunia ini Tuhan beri tanah yang subur dengan air yang cukup dan dikelola oleh para penggarap dengan setia agar menghasilkan buah yang melimpah. Di tengah kebun anggur itu ada menara jaga yang ditafsirkan sebagai “tempat kudus” atau Bait Allah yang dilengkapi dengan tempat memeras anggur yang ditafsirkan sebagai “altar.” Lukisan ini mengingatkan kita bahwa kebun anggur itu tempat kudus yang mesti dirawat agar yang kudus itu berbuah kebenaran, kebaikan dan keindahan. Tapi Tuhan sebagai pemilik kebun anggur tidak pernah memaksakan pikiran dan kehendak-Nya kepada penggarap-pengarap yang ia percaya. Pemilik kebun anggur tidak arogan dalam kuasa meski ia memilkinya. Ia sangat menghargai kehendak dna pilihan bebas. Penginjil Matius menulis, “Pemilik kebun anggur itu menyewakan kebun itu kepada penggarap-pengarap lalu berangkat pergi ke negeri lain” (Mat 21:33). Allah memberikan kebebasan penuh kepada penggarap-penggarap untuk mengekspresikan kehendak bebas demi Kerajaan Allah. Beda Venerabilis, seorang Rahib Benediktin yang menetap dalam Biara Northumbria Santo Petrus di Monkwearmouth Inggris, menulis “Ia tampaknya meninggalkan kebun anggur supaya dapat meninggalkan para pemelihara kebun anggur itu pilihan tindakan yang bebas.” Pilihan tindakan yang bebas itu sesungguhnya terangkum dalam identitas “penggarap.” Istilah “penggarap”-sebenarnya tertuju kepada Imam kepala yang duduk dalam Mahkamah Agama Sanhedrin-bisa kita terjemahkan “penyewa”, “pemilik sementara” “sekadar pekerja” atau “petani kebun anggur.” Istilah “penggarap” identik dengan sesuatu yang sementara saja. Mereka hanya sekadar menggarap lahan dari pemilik tanah. Konsekuensi lanjut, jika pemilik tanah tidak mempunyai ahli waris maka para “penggarap” mempunyai hak pertama untuk memiliki tanah itu.

Soal ahli waris inilah yang memunculkan konflik kepentingan dalam diri para penggarap di dalam kebun anggur. Ruang-ruang rohani tidak pernah bebas dari permainan kepentingan dangkal. Berhadapan dengan realitas kebun anggur yang memilik prospek masa depan, hadir hasrat menjadi kaya dengan menghalalkan segala cara. Atas nama rakus hidup mewah instan, nyawa begitu murah ditumbalkan dan darah ditumpahkan tanpa pernah mendengarkan teriakan sunyi. Kehendak bebas yang Tuhan titip untuk menentukan pilihan yang benar, baik dan adil, dibelokkan sekadar memuaskan hasrat diri.

Penggarap-penggarap kebun anggur merasa khawatir akan kepastian masa depan berhadapan dengan godaan kualitas hasil kebun anggur ini, Santo Paulus mengingatkan jemaat di Filipi, godaan itu akan berperang melawan suara Tuhan yang terkadang lebih sunyi, pelan dan kecil dibandingkan dengan suara keserakahan yang bergelora dan mendesak-desak (Flp 4:12).
Pengarap-penggarap itu kehilangan kendali kebebasan. Hati mereka oleng dan kalangkabut oleh godaan dan tawaran kenikmatan, kemewahan dan kualitas hasil kebun anggur. Kehendak dan pilihan yang berkiblat pada Kerajaan Allah kalah dari dorogan hasrat keserakahan untuk memiliki kebun anggur. Maka pembunuhan sesama khususnya utusan pemilik kebun anggur yang ditafsir sebagai nabi atau utusan Allah menjadi sebuah keniscayaan. Nyawa dan darah utusan, bahkan pemiliknya yaitu Yesus Kristus begitu gampang ditumpahkan. Para penggarap sangat kesetanan hasil dorongan hasrat membara untuk menguasai kebun anggur milik orang lain. Mereka mencuri hal milik orang lain. Niat itu begitu licik tapi nikmat. Ada darah dan nyawa yang dikorbankan. Tapi ada kuasa, harta dan kebun anggur yang akan dimiliki meski itu “sementara”.

Narasi bacaan hari ini melukiskan kasih setia Allah di satu pihak dan keserakan manusia di pihak lain. Allah sangat setia dan telaten merawat Israel agar menjadi kebun anggur yang menghasilkan buah yang ranum dan lezat. Ia mencangkul tanahnya, membuang-batu-batu, menanaminya dengan bibit anggur pilihan, membangun pagar dan menara penjaga serta menggali lubang pemerasan anggur (Yes 5:7). Tapi Isreal hadirkan kekecewaan karena tegar hati sehingga hanya mampu hasilkan buah anggur asam. Israel mengingkari semua kebaikan Allah. Bahkan dalam Injil Matius, penggarap justru tidak tahu diri dan berebut kuasa menjadi pemilik dengan menyingkirkan orang-orang kepercayaan Allah. Bahkan Anak Allah sebagai pemilik sah kebun anggur pun dibunuh (Mat 21:37-39).

Namun Tuhan selalu menciptakan keajaiban di tengah puing-puing kehancuran dunia. Tragedi Jumat Agung dimahkotai kebangkitan. Perbuatan jahat selalu tidak abadi. Hanya memuaskan dahaga infantil sesaat. Penggarap-penggarap yang garang dan sadis akan tertunduk malu di hadapan sang pemilik. Utusan Allah dan Anak-Nya pemilik yang telah dibuang akan menjadi batu sendi hidup Gereja di masa depan. Darah orang-orang benar tidak pernah mengering apalagi hilang. Darah itu akan abadi dalam “teriakan.”

Darah Misionaris

Darah Pater Konrad Becker SVD yang tumpah di Watuwawer, Paroki Lerek, Lembata menyucikan tanah kebun anggur dan menyuburkan benih panggilan. Rentang waktu 100 tahun kehadiran SVD di tanah Lembata menjadi momen refleksi spiritual. Saat untuk bersyukur, mengenang jejak tapak kaki para misionaris dan merancang misi masa depan. Apakah Lembata telah menjadi kebun anggur yang berbuah ranum dan berkualitas lezat? Atau kita hanya menghasilkan buah anggur yang asam karena otak kita terbatas-meski ada potensi-stagnan dan tertutup lalu hilang kreativitas di tengah deburan gelombang informasi kemajuan zaman? Apakah kita menjadi penggarap yang kehilangan identitas karena kelekatan dengan “orang tertentu” yang begitu personal dan akhirnya membangun “rumah kenyamanan pribadi” lalu dengan berbagai cara berusaha “membunuh” utusan yang lebih muda, progresif dan berenergi untuk perubahan karena merusak kenyamanan relasi penggarap terdahulu yang sudah akut dan uzur? Belum lagi, “utusan” lebih dekat dengan pemilik yang hanya ada di belakang meja, gemar mendengarkan bisikan dan menjadikan jabatan dan status sebagai ruang pengaman bagi utusan yang tidak berbobot, bodoh (kurang pengetahuan), tertutup dan arogan. Saat kehilangan argumentasi, utusan yang tidak berkualitas membela diri dengan sepotong SK dari “atasan.” Utusan-utusan yang tidak berbobot hanya mempersulit manajemen pengelolaan kebun anggur sehingga penggarap yang nakal bisa membawa kabur aset kebun anggur ke “negeri seberang.” Tapi perilaku penggarap yang bawa lari uang ini patut diduga ada skenario “bersama” utusan untuk “mengamankan” niat buruk. Kita belajar dari para misionaris dulu yang setia bekerja, tahu diri, sadar kemampuan sehingga menyatu dengan keseharian umat sederhana yang menjadi ruang tumbuhnya benih Sabda Allah kontekstul. Sikap diam terhadap utusan yang tidak berkualitas adalah dukungan suburnya tabiat yang semakin merusak kelestarian dan keutuhan kebun anggur.

Rasul Paulus mengatakan bahwa gereja mampu jadi penggarap yang baik kalau Tuhan jadi kiblat hidup seumur hidup, hati yang terbuka kepada realitas, kritis membaca kenyataan, peka menangkap getaran aspirasi dan berani memperjuangkan kebenaran dan kebaikan bersama hingga Kalvari. *