Tobat: Jalan Menuju Kasih

Tobat: Jalan Menuju Kasih

(P.Steph Witin, SVD)

Pekan Biasa XXVI
Bacaan I Yehezkiel 18:25-28.
Bacaan II Filipi 2:1-11
Injil Matius 21:28-32

Setiap kita tak mungkin luput dari pilihan. Karenanya, kita diperhadapkan dengan putusan. Dan putusan itu bermuara pada sikap, tindakan atau perbuatan. Kita hanya bisa menjawab atau “ya”, atau “tidak”.

Akan tetapi, ini bukan soal memutuskan asal “ya” atau asal “tidak”. Jawaban itu sejatinya mesti dirantaikan pada nilai, pada kehidupan, atau pada kebaikan bersama.

Demi putusan yang berkiblat pada nilai dan kehidupan, jawaban “Ya” adalah keharusan. Tetapi yang menyeret kepada maut dan kematian”, jawaban “tidak” adalah kemutlakan. Itulah bendera moralitas kristen yang harus dikibarkan.

Kita bisa bilang ‘Ya’ pada hari ini. Akan tetapi besok bisa berubah. Demikianpun ketegasan untuk ‘tidak’ saat ini, namun di kesempatan mendatang kita bisa segera berubah. Banyak hal yang bisa pengaruhi perubahan itu. Mungkin lingkungan, ataupun keadaan. St Thomas Aquino rumuskan bahwa adalah *kelemahan kehendak* yang bisa buyarkan manusia untuk jatuh dalam pilihan dan sikap buruk. Menurutnya, itulah akibat dari dosa asal.

Namun ini tidak berarti segera tamatlah kerinduan manusia untuk berada (kembali) di jalan seharusnya. Bagi setiap manusia, terbentang jalan pengharapan. Itulah jalan yang bergandeng mesrah dengan kebenaran dan hidup. Kita tentu pada maklum bahwa lika-liku jalan hidup setiap manusia tentu berbeda-beda.

Syukurlah, apabila alam lingkuangan kehidupan seseorang itu sekian pro aktif untuk selalu OK dan segar pada nilai-nilai luhur. Namun, dalam hidup penuh pertarungan, manusia bisa saja terjebak dalam salah memutuskan, yang berujung pada keanehan dalam bertingkahlaku.

Banyak hal janggal yang telah diperlihatkan sebagai kebalikan dari kebaikan, nilai-nilai luhur dan kebenaran. Namun, luhurlah hati yang penuh dengan aura sikap penyesalan untuk kembali. Untuk kembali kepada kedaulatan ‘ya’ akan kebaikan dan ‘tidak’ akan keburukan.

Namun banyak juga akal bulus untuk berpura-pura “Ya”, tetapi tak nampak dalam sikap. Tetapi, ada selalu harapan dan kerinduan dalam Tuhan untuk kembali kepada pangkuan kemurahan Tuhan. Yang semula mengatakan ‘tidak’ akan kebaikan, tetapi kemudian bersimpuh pada penyesalan.

Itulah yang hendak disorot Tuhan dalam tegasannya kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, *”…sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan para pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah…”* (Mat 21:31).
Saat oleh karena Kasih Tuhan, para pemungut cukai dan para pelacur itu sekian bergerak ke 8alam masuk Kerajaan Allah, para petinggi Yahudi itu sebaliknya masih saja terjerat dalam alam dan pola-pola lama. Hal itu menyangkut cara berpikir, menilai, memutuskan, bersikap dan bertindak.

Menyesal, insaf, dan bertobat* (Yeh 18:25-28)

Siapapun kita, dalam rana Injili, terus diserukan gema untuk kembali pada nilai, pada kehidupan, kepada kebaikan. Ya, kepada Allah sendiri. Saling membantu untuk meneguhkan satu terhadap yang lain adalah panggilan kasih.

Tetapi pertobatan itu juga menuntut perombakan radikal secara pribadi tentang cara berpikir, cara kita menilai, cara bersikap terhadap atau mengenai sesama. Pertobatan adalah satu proklamasi kemerdekaan. Saat kita tidak terpaku mati lagi pada dalil-dalil lama dan kejam terhadap sesama. Tanpa pusing peduli pada irama indah jalan pulang penuh penyesalannya.

Terkadang berat memang hidup di dunia yang fana ini, Bro. Kata orang, ‘berlapis-lapis kebaikan tidak lantas jadikan Anda sebagai penyelamat apalagi sebagai orang kudus. Namun satu kesalahan sudah cukup untukmu sebagai ‘mahkota’ untuk digelar sebagai iblis dari neraka jahanam.

Kita tak akan pernah berubah dalam cara berpikir, menilai serta bertindak terhadap sesama, jika kita tidak berusaha melakukannya dalam kasih (cf St Thomas Aquino).

Maka mari kita ingat nasihat Rasul Paulus:
‘Dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan Kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesrah dan belaskasihan….maka hendaklah kalian sehati sepikir dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan diri sendiri atau pujian yang sia-sia…” (Flp 2:1-3, Bacaan I)