Renungan: Setia Berbagi Hidup untuk Sesama

Setia Berbagi Hidup untuk Sesama
(P.Steph Witin,SVD)

(Minggu Biasa XVIII-A)
Yes 55:1-3; Rm 8:35.37-39; Mat 14:13-21.

Saudara-saudari
Penulis Rohani, Anthony de Mello dalam buku Burung Berkicau menulis satu cerita berjudul “Tuhan Menjadi Makanan.” Tuhan memutuskan untuk mengunjungi bumi. Maka Ia mengutus malaikat-Nya untuk menyelidiki situasi bumi terlebih dahulu. Malaikat kembali dengan laporan. “Di bumi, kebanyakan manusia kekurangan makanan.”

Tuhan berkata, “Nah, Aku akan menjelma menjadi makanan bagi semua orang yang sedang kelaparan di muka bumi.” Narasi ini menegaskan kerelasediaan Tuhan untuk setia berbagi diri-Nya bagi manusia. Bahkan segenap makhluk hidup. Tuhan tidak hanya memberi makanan.

Tapi Dia menjelma menjadi makanan itu sendiri untuk memuaskan jiwa manusia, bahkan segenap ciptaan. Tuhan memilih jalan “makanan” agar bisa masuk ke dalam kenyataan hidup manusia.

Tuhan berempati dengan situasi hidup manusia dan membahasakan itu dalam solidaritas konkret. Tanpa kecemasan. Tanpa keluhan.

Saudara-saudari..

Membaca Injil hari ini, kita akan temukan satu hal yang menarik antara keluhan para murid dan sikap Yesus. Para murid meminta Yesus mengusir orang banyak untuk pergi.

Tetapi Yesus menyuruh orang banyak untuk duduk di rumput. Para murid merasa cemas dengan makanan. Yesus malah menyuruh mereka memberi makanan. Mereka hanya memiliki lima buah roti dan dua ekor ikan yang diperkirakan secara manusiawi, sama sekali tidak akan mencukupi.

Yesus malah membuatnya menjadi lebih, ada sisa, bahkan lebih banyak dari yang mereka punyai sebelumnya.

Kisah ini tidak menceritakan di mana orang banyak itu kemudian menginap, mengingat hari sudah mulai malam. Namun demikian, kisah ini sesungguhnya mengajarkan kita untuk berbagi. Tuhan tidak membutuhkan seberapa banyak yang ada pada kita.

Tuhan hanya membutuhkan kerelasediaan kita agar bersedia saling berbagi. Saling berbagi memampukan kita untuk saling menerima satu sama lain dan tidak mengeluarkan orang lain dari kebersamaan.

Saling berbagi akan membuat kita tidak merasa cemas akan kekurangan kita, karena kita bisa memperolehnya dari satu sama lain. Tuhan selalu menyediakan orang lain yang akan melengkapi kekurangan dan keterbatasan kita.

Saling berbagi akan membuat kita berkelimpahan. Ketika orang kikir, ia menutup dirinya sendiri dari orang lain dan kita pastikan bahwa dia tidak akan berkembang.

Ia bahkan menjadikan dirinya sendiri sebagai patokan yang benar. Sebaliknya, saling berbagi akan saling melengkapi dan akan membantu orang lain bertumbuh menjadi pribadi yang terbuka, berempati dan bersedia membagi diri dan hidupnya bagi orang lain.

Dalam habasa Ekaristi, berbagi berarti seperti Tuhan, “Kita memecah-mecah diri kita untuk memberi kesegaran baru bagi hidup sesama.”

Saudara-saudari..

Tuhan adalah dasar segala-galanya. Melalui mulut Nabi Yesaya, ia mengajak kita untuk setia datang kepada-Nya dan merasakan, mengalami aliran air kasih-Nya yang mengalir tanpa tepi untuk memberi kesegaran bagi hidup kita.

Tuhan hanya menuntut kita setia datang kepada-Nya. kesetiaan untuk selalu datang kepada-Nya, dalam bahasa Rasul Paulus dalam bacaan II berarti mengikat diri kita dengan Tuhan sehingga kita menjadi satu dengan-Nya. firman-Nya menjadi kekuatan untuk menerbitkan keberanian-yang dalam Bahasa Injil-“setia berbagi dengan sesama, berapa pun yang ada pada kita.

Kalau kita memberi dengan tulus, rahmat Tuhan tidak akan pernah berhenti menghampiri hidup kita. Santa Theresa dari Kalkuta dalam seluruh hidupnya mengingatkan kita: Kita harus setia menjadi pensil yang dipakai Tuhan untuk menuliskan kasih-Nya tanpa batas kalkulasi, perhitungan, kepada sesama. Jalan yang ditunjukkan Tuhan dalam Injil hari adalah bersedia berbagi kebaikan yang Tuhan titip dalam diri kita bagi semua orang.(*)