Renungan: Mencari Harta Terpendam

Mencari Harta Terpendam

(P. Step Tupen Witin, SVD)

1Raja-Raja 3:5.7-12.
Roma 8:28-30
Matius 13:44-52.

“…et prae gaudio illius vadit, et vendit universa quae habet…”
“Karena sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya…” (Mat 13:44

Ada banyak hal yang dijumpai dalam hidup ini. Sesederhana apapun perjumpaan itu, tentu ia berpengaruh. Ada jumpa yang mencemaskan. Dan kita lalu menghindar.

Tetapi ada pertemuan yang penuh simpatik. Bikin hati berbunga-bunga dan terpesona. Gelora hati riang tak terbendung saat menjumpai yang didambakan.

Yang melahirkan rasa kagum. Dan setiap yang mengagumkan itu pasti menarik. Mendesak siapapun untuk memilikinya dan terhitung di dalamnya.

Sebaliknya, bayangkan saja hati manusia yang sungguh gersang. Tetap dalam amukan badai kemarahan tak berakhir. Ia tentu belum berjumpa dengan “sesuatu yang mengagumkan.” Ia tetap terjajah oleh kata hati yang mendengki. Tergambar dalam sorot mata dan wajah penuh curiga dan sinis serta “tak terawat.”

Yesus, Tuhan dan Guru banyak berbicara tentang Kerajaan Surga. Ciri utama Kerajaan Surga adalah cinta dan damai. Bila cinta dan damai itu adalah dambaan dalam ziarah hati setiap manusia, maka betapa menarik dan penuh pesonanya Kerajaan Surga itu.

Kerajaan Surga itu diibaratkan sebagai “harta terpendam di ladang.” Mendesak seseorang, siapapun, untuk memilikinya. Kerajaan Surga diumpamakan pula sebagai “mutiara indah.”

Mendesak si pedagang itu untuk meraihnya. Ada hal yang wajib dilepaskan untuk memeroleh harta terpendam dan mutiara berharga. Ini tak berarti bahwa yang patut dijual atau dilepaskan itu tidak bernilai atau tak berguna. Tetapi bahwa hati manusia ‘terlanjur penuh sukacita untuk memeroleh harta terpendam dan mutiara indah itu (Mt 13:44).

Cinta dan damai sebagai karakter Kerajaan Surga itu sekian mengagumkan. Ia menciptakan “ruang hati penuh sukacita” untuk membiarkan pergi atau melepaskan segala yang lama.

Kerajaan Surga yang diumpamakan bagai harta terpendam dan mutiara indah itu tidak hanya punya orientasi kepada masa yang akan datang. Ia juga bergerak pada saat kini.

Dalam keseharian, dalam kenyataan konkret pergulatan hidup ini. Kerajaan surga berciri cinta dan damai yang mau dialami dalam keluarga, hidup bersama level manapun menantang kita untuk bersukacita lepaskan prinsip, isi dan cara berpikir atau isi dan cara merasa yang lama, yang justru mengaburkan cinta dan damai.

Raja Salomo meminta hal yang utama yaitu “hati yang sanggup menimbang perkara.” Itulah harta indah yang dimintanya dari Tuhan. Cinta dan damai Kerajaan Surga akan dialami oleh rakyat ketika Salomo bertindak penuh arif. Saat ia menghakimi umat TUHAN dengan tepat.

Bukannya penuh sukacita menjual segala milik untuk kemudian membeli ladang dimana terdapat harta terpendam, tetapi seseorang hanya mau “main serobot” dengan merampas ladang itu. Memilikinya dengan cara tak sedap. Bukannya menjual seluruh milik untuk membeli mutiara itu, pedagang itu malah berulah jadi perampok mutiara itu.

Segenap kita, Gereja, kaum religius, awam, dengan berbagai status, kedudukan, atau jabatan apa saja dipanggil untuk dengan sabar, penuh harapan dan sukacita mencari “harta terpendam” dan “mutiara berharga Kerajaan Surga.”

Kita mencari untuk menemukannya dengan cara-cara elegan, bercitra dan manusiawi. Namun, ada banyak salah kaprah dalam keinginanan merasa “damai dan cinta” aura kerajaan surga dengan cara penuh kekerasan, dengan ujaran kebencian.

Merasa “nyaman dan damai” saat yang dibenci atau dimusuhi itu telah dilumpuhkan atau dienyahkan. Adalah kebohongan besar dan sungguh sesuatu yang tak mungkin untuk menggabungkan “harta terpendam dan mutiara berharga” dengan orientasi lama atau pun segala apapun yang lama.

Seperti, tak mungkin teralami cinta dan damai dalam dan melalui “pedang, kekerasan, pencurian terstruktur, tipu muslihat dan penyingkiran.”

Selama ziarah hidup di atas kefanaan ini, kita tetap bertarung untuk menemukan “harta terpendam” dan “mutiara berharga” itu. Satu pertarungan yang selalu sengit dan tidak gampang.

Katakan misalnya pertempuran antara kerajaan berorientasi kekuasaan egois atau kelompok berhadapan dengan kerajaan bernilai Surgawi. Pertarungan ini tentu menuntut sikap dan pilihan yang jelas dan tegas serentak berbuah. Maka selanjutkan hingga Golgotha.

Mari kita berjuang agar tetap terbilang bagai “ikan-ikan yang baik yang dikumpulkan dalam pasu” (Mat 13:48). Orientasi hidup Injili, hidup dalam bingkai Kerajaan Surga hendaknya tetap menjadi dasar, kekuatan, sukacita dan harapan kita. Karena hidup Kristiani yang sehat pasti “tidak menggiring” siapapun menuju akhirp zaman dengan alamat: “dapur api dengan suasana ratapan dan kertak gigi” (Mat 13:50).