Seandainya Kita/Sumba Sudah Bergerak!

Dominggus Elcid Li
Dominggus Elcid Li

Oleh: DR Dominggus Elcid Li *)

Kupang, 21 Juni 2020

DI ANTARA tiga pulau besar yang ada di NTT, hanya para bupati dari 4 kabupaten di Pulau Sumba yang membuat kesepakatan bersama untuk menyelesaikan Covid-19 secara bersama.

Draft MoU di antara para bupati itu sudah beredar dan ditandatangani sejak hampir tiga bulan lalu. Waktu itu penanganan ‘model pulau’ atau ‘intervensi berskala pulau’ bisa dikatakan sebagai sebuah terobosan.

Sebab di dua pulau besar lainnya, Flores dan Timor, para bupati ‘saling bikin kepala sakit’. Warga dari kabupaten lain yang melintas area kabupaten lain, sering bingung dan emosi, karena tidak ada aturan tunggal yang sama dalam satu pulau.

Keluhan utama muncul dalam beberapa bulan ini warga kesulitan mengantarkan paket logistik maupun barang farmasi, karena dihentikan di tengah jalan Trans Timor maupun Trans Flores.

Sayangnya kemajuan di atas kertas milik para bupati di Pulau Sumba juga tidak diikuti dengan langkah antisipasi yang progresif atau berbasis pada pencegahan nyata di lapangan.

Kemarin (Sabtu, 20/5/2020), Satgas Covid-19 NTT mengumumkan tambahan 3 warga NTT yang positif. Dua orang di antaranya dari Pulau Sumba. Satu orang adalah buruh migran, pelaku perjalanan yang melintas dari Malaysia-Batam-Jakarta-Kupang-Waingapu-Waitabula.

Jadi di tataran interpersonal, tidak ada soal dalam hal kepemimpinan para bupati di Pulau Sumba, mereka dikenal merakyat. Hal yang kurang adalah inovasi.

Buruh migran yang pulang ke kampung asal di Kabupaten Sumba Barat Daya, masuk melalui Pulau Timor menuju pintu Timur Pulau Sumba. Sedangkan pasien satu lagi memang berasal dari Kabupaten Sumba Timur, dan terkategorikan sebagai pasien dengan ‘transmisi lokal’, adalah tenaga kesehatan.

Seingat saya, kedua bupati di ujung Barat dan Timur Pulau Sumba adalah dua bupati yang paling mudah untuk kami ajak wawancara atau tampil dalam dialog live. Tidak ada protokol berliku, ketika Tim Media Forum Academia NTT (FAN) meminta mereka berdialog.

Jadi di tataran interpersonal, tidak ada soal dalam hal kepemimpinan para bupati di Pulau Sumba, mereka dikenal merakyat. Hal yang kurang adalah inovasi.

Seadainya mereka ‘sudah arisan’ dan masing-masing bupati kumpul doi (uang, Red) untuk membangun satu Laboratorium Biomolekuler qPCR yang mampu mengadakan tes massal di Pulau Sumba; tanpa tergantung ke Laboratorium Biomolekuler (LBM) di RSUD Prof WZ Johannes di Kupang.

Dengan modal mesin qPCR sendiri, mereka akan mampu mengadakan tes satu harinya sebanyak 600 hingga 1200 orang atau bahkan lebih, maka dua angka positif hari ini bisa mereka hadapi dengan lebih percaya diri.

Detil konsep sudah Forum Academia NTT kirimkan sejak 12 Mei 202 kepada salah satu warga yang biasa menjadi penghubung ke para bupati. Hingga hari ini belum ada tanggapan. Padahal dengan laboratorium ini, seluruh warga yang baru datang ke Sumba bisa dites swab gratis.

Tes massal utama yang mereka perlu lakukan secara rutin antara lain, untuk mengambil swab (1) para pelaku perjalanan yang memanfaatkan transportasi laut maupun udara yang masuk ke Sumba, dan (2) secara rutin melakukan tes kepada para tenaga kesehatan yang rentan terpapar Covid-19.

Jika area berisiko tinggi ini mereka pantau dengan saksama, maka hari-hari ini sebenarnya warga di Pulau Sumba adalah warga yang bisa menikmati tidur nyenyak. Terutama para tenaga kesehatannya.

Saat ini para tenaga kesehatan adalah tim yang paling sibuk setelah 3 bulan kerja spartan. Hari ini mereka masih harus kerja keras dalam membuat contact tracing, melakukan identifikasi warga yang berinteraksi, dan merawat warga yang baru diumumkan positif.

Bahkan untuk Sumba Timur, sebanyak 50 tenaga kesehatan harus dikarantina untuk waktu yang tidak pasti, karena satu tenaga kesehatan dites positif.

Jika ada Laboratorium biomolekuler yang memadai untuk Pooled-Test, mereka bisa dites massal dalam tempo sehari. Hasilnya langsung diketahui di hari yang sama. Kemudian dengan satu uji tambahan, bisa diestimasi titer virus pada orang per orang karena teknologi qPCR memungkinkan kuantifikasi ini.

NEXT: Evaluasi atas New Normal…