Renungan Hari Pentekosta: “Terimalah Roh Kudus”

“Terimalah Roh Kudus”
(P. Steph Tupen Witin, SVD)

Kisah Para Rasul 2:1-11.
1Korintus 12:3b-7.12-13.
Yohanes 20:19-23.

Saudara-saudari terkasih,
Kita tidak sekadar hidup di atas dunia ini. Kita impikan hidup yang nyaman dan damai. Tetapi akadang damai terasa berat untuk diraih. Ada asap dan kabut tebal yang menghalangi kemerdekaan pikiran dan kebebasan rasa di hati. Itulah ketakutan yang membunuh rasa percaya diri.

Ia juga mengubah aura relasi dengan sesama: dari ketulusan menjadi penuh kecurigaan. Di balik rasa takut yang menebal itu terdapat dua sisi maut: ‘sembunyi diri’ dan juga ‘kekerasan terhadap sesama’. Maka dituntutlah pembaruan aura kehidupan sebagaimana yang disabdakan Yesus, “Damai Sejahtera Bagi Kamu” (Yoh 20:19.21).

Betapa pentingnya damai itu. Hati damai mulai dari dalam diri sendiri. Dari “damai dengan diri sendiri” terbangunlah relasi yang yang kokoh dengan sesama dan alam lingkungan.

Hati damai itu menyanggupkan kita untuk menoleh ke hari-hari berlalu: penuh rasa syukur dan pengampunan. Tidak pernah ada manusia yang merasa damai dalam perjalanan waktu selain orang yang tahu bersyukur dan terlibat dalam kisah pengampunan.

Tuhan menyerukan serukan “Damai Sejahtera” kepada para murid sebanyak dua kali. Para murid tidak boleh mencari rasa damai palsu dengan ‘amankan diri sendiri’ dalam rumah “dengan pintu-pintu yang terkunci.” Rasa damai juga tidak pernah ditemukan dengan ‘berpikir tentang keadaan di luar yang serba genting, kejam dan penuh bahaya, “karena takut kepada orang-orang Yahudi.”

Tetapi rasa damai adalah kekuatan untuk menghadapi situasi beringas dunia. Untuk hadapi rupa-rupa ketakmungkinan. Karenanya Tuhan “menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada para murid.” Damai di hati tak pernah dikalahkan oleh maut sekalipun. Hati damai para murid yang telah retak oleh kisah tragis Tuhan dan Guru di Golgota, kini mesti diperbarui.

Saudara-Saudari terkasih,
Tuhan mengembuskan nafas hidup bagi manusia taman Eden (Kej 2:7). Sayangnya, hidup manusia lama itu berakhir oleh kekhawatiran dan ketakutan yang terbungkus dalam “rasa curiga” pada Tuhan, Penciptanya (Kej 3:6-7).

Para murid, Gereja, kita sekalian, perlu dihembusi Roh Kudus agar sungguh mengalami kehidupan ini. “Mengalaminya dalam kelimpahan dan penuh sukacita.” TUHAN memberikan “nafas hidup baru” agar para murid, Gereja, kita sekalian kembali berlangkah maju penuh harapan.

Saudara-saudari,